"Tampaknya tidak menang 1 putaran karena memang di survei pernah sampai di atas 30%, tapi terakhir ini turun sampai di bawah 30%. Penyebabnya adalah kritik yang menyebar dari mulut ke mulut jadi besar," kata Didik usai diskusi "Nasib Jakarta Pasca Jokowi" yang diselenggarakan PDB di Wisma Kodel, Jl. HR Rasuna Said, Jaksel, Selasa (18/3/2014).
Didik sendiri pernah melawan Jokowi dalam Pilgub DKI Jakarta 2012 silam saat menjadi cawagub mendampingi Hidayat Nur Wakhid. Ia mengaku sebagai pihak yang beberapa kali mengkritik kebijakan Jokowi, namun diserang balik oleh pendukungnya.
"Satu saja mengkritik Jokowi, bisa langsung disikat dan di-bully. Pendukung seperti itu adalah hamanya demokrasi," kata politisi PAN ini.
Dalam diskusi yang juga menghadirkan politisi senior AM Fatwa, Didik mengkritik kebijakan-kebijakan Jokowi yang belum tuntas. Ia menilai Jokowi belum sanggup menghadapi tantangan nasional.
"Pertumbuhan kendaraan naik, kalau tidak ada kebijakan, turun satu aspek. MRT, monorel, dijalankan atau tidak? Tidak. Masalah banjir, Banjir Kanal Timur bukan Jokowi yang inisiasi. Dia memulai sesuatu tidak? Memulai tapi gagal terus. Mau buat sodetan ke Cisadane, begitu tidak boleh, langsung tidak jadi," kritiknya.
(trq/trq)











































