Rivalitas Jokowi-Prabowo Menguat, Semua Parpol Bakal Merapat ke PDIP

Rivalitas Jokowi-Prabowo Menguat, Semua Parpol Bakal Merapat ke PDIP

- detikNews
Selasa, 18 Mar 2014 15:43 WIB
Rivalitas Jokowi-Prabowo Menguat, Semua Parpol Bakal Merapat ke PDIP
Jakarta - Pasca pencapresan Jokowi, peta politik Tanah Air jelang Pemilu berubah signifikan. Perkembangan politik saat ini mengarah kepada semakin kuatnya rivalitas antara Jokowi dengan Prabowo Subianto. Capres-capres yang lain diprediksi akan merapat ke Jokowi.

"Kalau saya melihat politik 2014 ini adalah rivalitas antara Jokowi dengan Prabowo. Yang lain berharap dapat bergabung dengan Jokowi atau Prabowo. Ical, Surya Paloh, Muhaimin, akan menunggu dirangkul Jokowi," ujar pakar komunikasi politik dari FISIP Universitas Airlangga Dr Henry Subiakto saat berbincang dengan detikcom, Selasa (18/3/2014).

Menurutnya, perubahan politik yang terjadi dengan dicapreskannya Jokowi sangat signifikan. Bukan hanya popularitas dan elektabilitas Jokowi yang masih bertahan di atas semua tokoh, namun juga menenggelamkan popularitas capres yang lain.

Satu-satunya capres yang mampu menjadi rivalitas kuat Jokowi adalah Prabowo Subianto yang dalam sejumlah survei berada di posisi kedua. Namun untuk mencapai 20 persen suara dalam Pileg menurutnya, cukup berat bagi Gerindra. Sementara elektabilitas Jokowi diyakini mampu mendongkrak suara PDIP di Pileg.

Karena itu lanjut dia, parpol-parpol menengah termasuk Golkar dan capres lainnya akan lebih memilih Jokowi ketimbang Prabowo.

"Tidak hanya Golkar, semua punya harapan bisa digandeng Jokowi. Bahkan Surya Paloh sekalipun. Semua ingin masuk dalam gerbong Jokowi terutama untuk dapat RI 2. Karena kalau mereka mau berkoalisi, tentu partai menengah akan merapat kepada yang menang," tutur Henry.

Mendekatnya parpol-parpol dan capres ke PDIP, setidaknya untuk mendapatkan bagian dalam kabinet. Apalagi jika PDIP berhasil menembus 30 persen dalam Pileg, dapat dipastikan kursi cawapres makin tertutup bagi parpol lain. PDIP bisa saja mengambil kandidat dari militer untuk mengimbangi Prabowo.

"Nasdem sangat mungkin merapat karena kedekatan Surya Paloh dengan Mega. Golkar juga lebih dekat ke PDIP daripada Gerindra. Parpol menengah lainnya tentu tidak akan ketinggalan gerbong kabinet. Yang galau mungkin Hanura," tuturnya.

"Hanura sudah terlanjur deklarasi capres cawapres. Kalau ke Gerindra, Wiranto tidak cocok dengan Prabowo. Kalau ke PDIP, Hary Tanoe tidak cocok dengan Surya Paloh yang merapat ke PDIP. Sementara Demokrat akan lebih ke Gerindra. Karena SBY tidak cocok dengan Mega," pungkas Henry.

(rmd/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads