Hal itu dikemukakan Ketua Lembaga Studi Informasi dan Demokrasi (eLSiD) Dedi Barnadi, di Cafe BMC, Bandung, Jalan Aceh, Senin (17/3/2014).
"Itu (posisi cawapres) kalau mau menang. Karena untuk sementara hasil kajian kami untuk capres itu peluang terbesarnya memang Pak Jokowi," ujarnya.
Namun demikian, lanjut Dedi, masih ada peluang Aher bisa jadi capres, asalkan ia menjadi pemenang dalam Pemilihan Raya (Pemira) PKS.
"Tapi bukan tidak mungkin jadi capres. Karena masih ada waktu tersisa. Saran kami untuk Aher, lebih baik ngambil cawapres. Jika Aher ingin menjadi tokoh nasional di Pemiranya harus menang dulu," ungkapnya.
Namun saat ini kondisi berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 14-16 Maret 2014 lalu, sosok Aher masih kalah dengan tokoh muda Jabar lainnya yakni Jumhur Hidayat.
"Ketika disajikan pertanyaan tertutup kepada responden siapa di antara 10 tokoh Sunda yang cocok sebagai cawapres mendampingi Jokowi, ternyata posisi pertama itu adalah Jumhur Hidayat sebanyak 18,36 persen. Sementara Jokowi-Aher itu hanya 17,16 persen," jelasnya.
Dalam survei yang dilakukan, ada 10 tokoh sunda atau Jabar yang disodorkan kepada responden untuk menjadi pendamping Jokowi di Pemilu 2014. Tokoh tersebut yakni Dede Yusuf, Armida Alisyahbana, Deddy Mizwar, Helmi Faisal, Marty Natalegawa, Jumhur Hidayat, Teten Masduki, MS Hidayat, Rieke Dyah Pitaloka, dan Ahmad Heryawan.
"Kami juga sempat menanyakan alasan mengapa responden memilih Jumhur daripada Aher, mereka menjawab karena PDIP itu kecil kemungkinan untuk bisa bersatu dengan PKS," jelasnya.
(avi/try)











































