Ini Analisis Media Asing Soal Popularitas Jokowi

Ini Analisis Media Asing Soal Popularitas Jokowi

- detikNews
Senin, 17 Mar 2014 16:05 WIB
Ini Analisis Media Asing Soal Popularitas Jokowi
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang biasa disapa Jokowi, menjadi fenomena politik di Indonesia. Popularitasnya melesat seiring dengan kerja-kerja yang dilakukannya di DKI. Fenomena Jokowi ini menarik perhatian media asing untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan eks Wali Kota Solo itu menjadi sangat terkenal di Indonesia.

Adalah Financial Times yang membuat analisis soal popularitas Jokowi. Salah satu media yang cukup berpengaruh di dunia ini menyebut sangat terkenal di era demokrasi terbesar dunia ketiga karena sikapnya yang sederhana, fokus dalam penyampaian dan pro terhadap kebijakan rakyat kecil, seperti kesehatan gratis dan pendidikan.

Berikut analisis Financial Times soal moncernya popularitas Jokowi, seperti dilansir, Senin (17/3/2013):


1. Gaya Sederhana

Beberapa orang membandingkan popularitas Jokowi yang melesat dengan cepat dengan popularitas Presiden AS, Barack Obama. Tetapi, salah satu lawan politik Obama mengatakan Jokowi lebih mirip seperti Ronald Reagan-nya Indonesia atau George W Bush.

"Orang-orang menyukai dia karena dia terlihat biasa-biasa saja. Dia merupakan jenis orang yang bisa makan mie di pinggir jalan," katanya.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan saingannya, seperti Jenderal Prabowo dan konglomerat Aburizal Bakrie atau bahkan pimpinannya sendiri, Megawati Soekarnoputri yang suka dengan kesendirian.

1. Gaya Sederhana

Beberapa orang membandingkan popularitas Jokowi yang melesat dengan cepat dengan popularitas Presiden AS, Barack Obama. Tetapi, salah satu lawan politik Obama mengatakan Jokowi lebih mirip seperti Ronald Reagan-nya Indonesia atau George W Bush.

"Orang-orang menyukai dia karena dia terlihat biasa-biasa saja. Dia merupakan jenis orang yang bisa makan mie di pinggir jalan," katanya.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan saingannya, seperti Jenderal Prabowo dan konglomerat Aburizal Bakrie atau bahkan pimpinannya sendiri, Megawati Soekarnoputri yang suka dengan kesendirian.

2. Fokus Pada Kebijakan

Setelah runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdesentralisasi. Tetapi banyak orang Indonesia kecewa dengan kualitas para pimpinan daerah yang terpilih. Sebagai Wali Kota Solo hingga menjadi Gubernur Jakarta di 2012, Jokowi fokus pada kebijakan yang nyata. Secara bertahap melakukan perbaikan, dari relokasi PKL di Solo hingga ke relokasi Pasar Baru di Jakarta. Memberikan kesehatan dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin di Jakarta.

2. Fokus Pada Kebijakan

Setelah runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdesentralisasi. Tetapi banyak orang Indonesia kecewa dengan kualitas para pimpinan daerah yang terpilih. Sebagai Wali Kota Solo hingga menjadi Gubernur Jakarta di 2012, Jokowi fokus pada kebijakan yang nyata. Secara bertahap melakukan perbaikan, dari relokasi PKL di Solo hingga ke relokasi Pasar Baru di Jakarta. Memberikan kesehatan dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin di Jakarta.

3. Sukses Berbagi Tugas dengan Wakilnya

Sukses berbagi tugas dengan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang memerankan si 'polisi jahat' Gubernur. Ahok menjalankan tugas rapat di Balai Kota. Sementara Jokowi menghabiskan hari-harinya dengan melakukan inspeksi dadakan, menerima tamu dan membimbing administrasi.

3. Sukses Berbagi Tugas dengan Wakilnya

Sukses berbagi tugas dengan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang memerankan si 'polisi jahat' Gubernur. Ahok menjalankan tugas rapat di Balai Kota. Sementara Jokowi menghabiskan hari-harinya dengan melakukan inspeksi dadakan, menerima tamu dan membimbing administrasi.

4. Pandai Mengatur Media

Jokowi telah menunjukkan dirinya bisa menjadi komunikator yang cerdas. Keputusannya untuk mengenakan kemeja kotak-kotak merah dan biruΒ  yang murah saat kampanye gubernur Jakarta adalah upaya yang bagus untuk menciptakan label sederhana dalam politiknya. Ciri khasnya sering melakukan inspeksi dadakan dirancang untuk memastikan bahwa dia tetap mendapat perhatian media dari situs berita 24 jam dan surat kabar.

Kurangnya alternatif Indonesia sebagai sebuah negara muda yang tumbuh cepat antara 10 dan 20 persen dari 190 juta pemilihnya akan memberikan suara untuk pertama kalinya tahun ini. Financial Times menyebut Indonesia kekurangan pemimpin muda. Sebagian pesaing dalam pemilihan, termasuk Prabowo dan Aburizal Bakrie, merupakan tokoh kontroversial dari masa lalu yang pernah mencoba dan gagal sebelumnya. Jokowi merupakan salah satu dari segelintir orang yang menjanjikan, pemimpin muda yang telah lahir dalam beberapa tahun terakhir ini.

4. Pandai Mengatur Media

Jokowi telah menunjukkan dirinya bisa menjadi komunikator yang cerdas. Keputusannya untuk mengenakan kemeja kotak-kotak merah dan biruΒ  yang murah saat kampanye gubernur Jakarta adalah upaya yang bagus untuk menciptakan label sederhana dalam politiknya. Ciri khasnya sering melakukan inspeksi dadakan dirancang untuk memastikan bahwa dia tetap mendapat perhatian media dari situs berita 24 jam dan surat kabar.

Kurangnya alternatif Indonesia sebagai sebuah negara muda yang tumbuh cepat antara 10 dan 20 persen dari 190 juta pemilihnya akan memberikan suara untuk pertama kalinya tahun ini. Financial Times menyebut Indonesia kekurangan pemimpin muda. Sebagian pesaing dalam pemilihan, termasuk Prabowo dan Aburizal Bakrie, merupakan tokoh kontroversial dari masa lalu yang pernah mencoba dan gagal sebelumnya. Jokowi merupakan salah satu dari segelintir orang yang menjanjikan, pemimpin muda yang telah lahir dalam beberapa tahun terakhir ini.
Halaman 2 dari 10
(slm/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads