Adalah Financial Times yang membuat analisis soal popularitas Jokowi. Salah satu media yang cukup berpengaruh di dunia ini menyebut sangat terkenal di era demokrasi terbesar dunia ketiga karena sikapnya yang sederhana, fokus dalam penyampaian dan pro terhadap kebijakan rakyat kecil, seperti kesehatan gratis dan pendidikan.
Berikut analisis Financial Times soal moncernya popularitas Jokowi, seperti dilansir, Senin (17/3/2013):
|
|
1. Gaya Sederhana
|
|
"Orang-orang menyukai dia karena dia terlihat biasa-biasa saja. Dia merupakan jenis orang yang bisa makan mie di pinggir jalan," katanya.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan saingannya, seperti Jenderal Prabowo dan konglomerat Aburizal Bakrie atau bahkan pimpinannya sendiri, Megawati Soekarnoputri yang suka dengan kesendirian.
1. Gaya Sederhana
|
|
"Orang-orang menyukai dia karena dia terlihat biasa-biasa saja. Dia merupakan jenis orang yang bisa makan mie di pinggir jalan," katanya.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan saingannya, seperti Jenderal Prabowo dan konglomerat Aburizal Bakrie atau bahkan pimpinannya sendiri, Megawati Soekarnoputri yang suka dengan kesendirian.
2. Fokus Pada Kebijakan
|
|
2. Fokus Pada Kebijakan
|
|
3. Sukses Berbagi Tugas dengan Wakilnya
|
|
3. Sukses Berbagi Tugas dengan Wakilnya
|
|
4. Pandai Mengatur Media
|
|
Kurangnya alternatif Indonesia sebagai sebuah negara muda yang tumbuh cepat antara 10 dan 20 persen dari 190 juta pemilihnya akan memberikan suara untuk pertama kalinya tahun ini. Financial Times menyebut Indonesia kekurangan pemimpin muda. Sebagian pesaing dalam pemilihan, termasuk Prabowo dan Aburizal Bakrie, merupakan tokoh kontroversial dari masa lalu yang pernah mencoba dan gagal sebelumnya. Jokowi merupakan salah satu dari segelintir orang yang menjanjikan, pemimpin muda yang telah lahir dalam beberapa tahun terakhir ini.
4. Pandai Mengatur Media
|
|
Kurangnya alternatif Indonesia sebagai sebuah negara muda yang tumbuh cepat antara 10 dan 20 persen dari 190 juta pemilihnya akan memberikan suara untuk pertama kalinya tahun ini. Financial Times menyebut Indonesia kekurangan pemimpin muda. Sebagian pesaing dalam pemilihan, termasuk Prabowo dan Aburizal Bakrie, merupakan tokoh kontroversial dari masa lalu yang pernah mencoba dan gagal sebelumnya. Jokowi merupakan salah satu dari segelintir orang yang menjanjikan, pemimpin muda yang telah lahir dalam beberapa tahun terakhir ini.
Halaman 2 dari 10











































