Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, tidak setuju bila warga yang memilih golput disalahkan sepenuhnya. Bagi Titi sikap golput tidak bisa dibilang sebagai cerminan cueknya masyarakat dalam partisipasi membangun demokrasi.
Titi menjelaskan golput bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Bisa karena memang kejenuhan atas kualitas dan akuntabilitas partai dan caleg yang tidak bisa berkorelasi positif. "Atau juga karena memang pemangku kepentingan pemilu belum berhasil membangun kesadaran masyarakat soal penting dan nilai dari pemilu itu sendiri bagi kehidupan mereka," ujar Titi kepada detikcom, Ahad (16/03/2014).
Bagi Titi juga tidak adil bila golput dituding dapat menghambat pembangunan bangsa dan negara. Menurut dia, dibanding golput, sikap korup dan aji mumpung para politisi dan pemangku kekuasaan jauh-jauh lebih berbahaya. "Karena mereka punya akses ke pengambilan kebijakan, kekuasaan, dan modal," katanya menegaskan.
Titi menekankan bahwa kalau bangsa ini mau mereformasi maka harus semua-semuanya. "Dan yang utama dari kualitas peserta pemilu dan calegnya, juga penyelenggara pemilu yang berintegritas dan profesional," jelas Titi. Selain itu, dia menambahkan, baru diikuti dengan pendidikan politik untuk pemilih secara berkelanjutan.
Perludem optimistis tingkat partisipasi masyarakat pada Pemilu 2014 ini akan lebih baik ketimbang Pemilu lalu. Bukan hanya diindikasikan oleh beberapa survei yang menyebut tingkat keinginan memilih yang tinggi. Bahkan ada yang menyebutkan 92 persen pemilih akan menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2014.
Kondisi ini, tambah Titi, diperkuat dengan meriahnya pemberitaan Pemilu di media massa cetak dan elektronik, sehingga rasa kepemilikan dan pengetahuan masyarakat atas pemilu lebih menguat ketimbang Pemilu sebelumnya.
(brn/erd)










































