Salah satu program 'jagoan' Kemendikbud untuk tahun ini adalah Sekolah Menengah Terbuka Jarak Jauh. Program sekolah seperti apakah itu?
"Sekolah Menengah Terbuka Jarak Jauh adalah salah satu bentuk pendidikan formal yang berdiri sendiri tapi merupakan bagian dari sekolah induk yang menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri," ujar Dirjen Pendidikan Menengah Kemdikbud, Achmad Jazzidie kepada wartawan dalam jumpa pers di Fx Plaza Senayan, Senin (17/3/2014).
Menurut Achmad, Sekolah Menengah Terbuka Jarak Jauh itu diperuntukkan kepada anak usia sekolah pendidikan menengah, namun dikhususkan bagi mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah atau dhuafa.
"Mereka bisa mengikuti pendidikan SMA formal secara terbuka, terdaftar di sekolah induk yang ditunjuk. Program ini akan kami laksanakan mulai tahun ini dengan beberapa sekolah induk terlebih dahulu, sekaligus pengujian apakah SMA terbuka ini akan berjalan dengan baik. Kalau berjalan dengan baik maka nanti akan kita perluas," jelasnya.
Secara sistematis, sekolah terbuka mandiri jarak jauh mengambil contoh dari Universitas terbuka. Pada tahun uji coba ini, Kemendikbud menunjuk 5 sekolah perintis sebagai sekolah induk bagi SMA terbuka jarak jauh, di 5 wilayah di Indonesia.
"Tahun ini kita baru membuka 5 sekolah terbuka perintis ini di 5 tempat. Sekolahnya antara lain di SMA Negeri 1 Gambut, Banjar, Kalimantan Selatan, SMA Negeri 1 Kepanjen Malang, SMA Negeri 2 Padalarang, Bandung Barat, SMA Negeri 1 Narmada NTB, Lombok Barat dan SMA Negeri 12 Merangin, Jambi," papar Achmad.
Sasaran utama penyelenggaraan SMA Terbuka Jarak Jauh ini adalah lulusan SMP sederajat yang tak tertampung di SMA/SMK reguler karena kendala ekonomi, geografis, waktu, sosial-budaya, serta drop out SMA.
"Penerimaan akan berlangsung di bulan Juli secara online dan offline. Tapi diprioritaskan kepada mereka yang memiliki kendala pada faktor ekonomi. Nanti calon siswa akan diidentifikasi latar belakang serta pekerjaan orangtua mereka untuk menyeleksi apakah mereka layak untuk masuk ke Sekolah Menengah Terbuka Jarak Jauh ini," ungkap Achmad.
Sementara model penyelenggaraan sekolah ini terdiri dari 3 pengembangan. Dominan online (100% online), balance online dan tatap muka, serta dominan tatap muka. Hal ini tergantung dari kapasitas dan kemampuan masing-masing daerah.
"Guru yang mengajar mereka berasal dari sekolah induk yang nanti akan kita training terlebih dahulu untuk diajarkan bagaimana tatap muka dengan murid secara online, sistem penilaian dan sebagainya. Diharapkan dengan metode ini mampu meningkatkan kualitas penduduk Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi serta daya saing dengan nega lain," tutupnya.
(rni/rvk)











































