PDIP Diperkirakan Akan Melamar Golkar untuk Pendamping Jokowi

PDIP Diperkirakan Akan Melamar Golkar untuk Pendamping Jokowi

- detikNews
Minggu, 16 Mar 2014 16:50 WIB
PDIP Diperkirakan Akan Melamar Golkar untuk Pendamping Jokowi
Calon Presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo
Jakarta - Nama Joko Widodo (Jokowi) resmi diajukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai calon presiden 2014-2019. Pertarungan selanjutnya adalah menentukan nama calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi.

Politisi senior Partai Golongan Karya, Zainal Bintang memprediksi sosok yang akan mendampingi Jokowi akan berasal dari partai pemenang kedua pada pemilihan anggota legislatif.

“Partainya dulu, yang berpeluang menjadi cawapres Jokowi, kalau saya melihat hitungan politik, PDIP akan mencari partai politik yang banyak kursinya di senayan, di parlemen,” kata Zaenal dalam diskusi bertema "Fenomena dan Kesempatan Tokoh Muda Parpol: Bagaimana Respon Publik Dalam Peta Politik Nasional di Pilpres 2014" yang digelar Founding Fathers House di Warung Daun Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (16/3).

Apabila melihat pada hitung–hitungan tersebut menurut Zainal, Partai Golkar lah yang akan berada pada posisi dua. Sehingga dalam ramalan dia, PDIP akan melamar cawapres seorang tokoh Partai Golkar untuk mendampingi Jokowi.

“Kalau siapa orangnya, itu urusan Golkar. Kalau urusan Golkar, maka Golkar harus melakukan Rampimnas ulang untuk menetapkan cawapres, karena Abu Rizal kan capres, tidak boleh berubah ujug-ujug jadi cawapres, harus rapimnas ulang,” kata Zaenal.

Menurut dia seandainya PDIP berhasil meraup suara 20 persen, partai dengan logo moncong putih itu diperkirakan tetap akan memilih cawapres dari luar partai.

“Dia (PDIP) butuh kawan di Senayan yang punya kursi. Jadi, godaan yang membuat PDIP akan mencari cawapres dari partai pemenang kedua adalah karena ingin partainya lebih banyak di parlemen,” kata Zaenal.

Dia mencontohkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono saat ini yang sering kewalahan menghadapi tekanan politik dari Senayan. “Karena dia pilih Boediono yang tidak punya partai, tidak punya kursi di Senayan, muntah darah kan sekarang, akibatnya SBY mengandalkan Setgab koalisi,” kata Zaenal.

(erd/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads