Tren Caleg Cabe-cabean

Ada Caleg Cabe-cabean Ramaikan Pemilu

- detikNews
Jumat, 14 Mar 2014 10:52 WIB
Spanduk kampanye yang bertebaran menjelang Pemilu. (Foto - detikcom)
Jakarta - Atribut kampanye yang banyak bertebaran di sepanjang jalan di Manggar, Kabupaten Belitung Timur menjelang pemilihan umum tahun ini membuat Bismi risih. Aneka stiker dan poster baik calon legislator maupun partai ditempel sembarangan. Di pinggir-pinggir jalan, di dinding-dinding rumah, tiang listrik hingga warung-warung kopi.

Gambar dan pose merekapun terlihat menarik, sangat gagah, tersenyum manis, dan necis. Ada juga yang menggunakan foto editan agar terlihat lebih bagus, berbeda dengan penampilan sehari-hari. Bismi yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Muhammadyah Bangka Belitung itu menyebut perilaku caleg itu mirip ABG Cabe-cabean.

“Bila tak disebut mirip mungkin ada pola yang sama ya antara cara caleg kampanye dengan ABG Cabe-cabean,” kata Bismi (45 tahun) saat berbincang dengan detikcom, Kamis (13/3) kemarin.

Istilah cabe-cabean populer digunakan untuk menggambarkan perempuan berusia belasan tahun yang memiliki kebiasaan khusus. Salah satunya asyik dengan dunianya sendiri. Dalam pergaulan sehari-hari mereka juga memiliki ciri khusus yang dikenal dengan 3 B, yakni behel, blackberry, dan berponi.





“Caleg juga memiliki 3B yakni bergaya dalam berfoto, bergaya dalam bahasa, dan bergaya dalam penampilan,” kata Bismi.

Novrianto Kahar, dosen Universitas Paramadina Jakarta mengatakan di kalangan tim sukses partai istilah caleg cabe-cabean sering digunakan. Konotasi kata ini dipakai untuk membedakan dan mengetahui kualitas seorang caleg; murni mencalonkan atau sekadar pemanis.

Dua kriteria caleg itu sebenarnya sudah ada sejak pemilihan umum 2009 lalu. Tapi, muncul plesetannya baru tahun ini karena sejumlah tim sukses yang memulainya. Biasanya kata pria yang disapa Novri ini, caleg yang benar-benar berjuang memiliki pola pikir kritis dan inisiatif dalam berkampanye. Tidak hanya mengandalkan modal biaya, tapi juga pendekatan personal serta kualitas yang kompeten.

Berbeda dengan caleg cabe-cabean yang justru hanya mengandalkan tampang wajah untuk menarik suara. Selain dipasang sekadar pemanis, caleg cabe-cabean diajukan untuk memberi kesan bahwa partai cukup akomodatif. Misalnya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan, atau menampung aktivis dari luar partai.

“Ini kan cuma lucu-lucuan saja. Istilahnya ini muncul dari teman yang jadi tim sukses seorang caleg. Dia lihat dinamika di lapangan seperti itu. Ya akhirnya curhat sama aku,” kata Novri saat berbincang dengan detikcom Kamis (13/3).




(erd/erd)