Informasi yang dihimpun detikcom, Jumat (14/3/2014), pesawat itu adalah Aloha Airlines dengan nomor penerbangan AQ243. Pesawat jenis Boeing 737-297 itu mengalami ledakan dekompresi di bagian badannya setelah mengudara selama 25 menit dari Bandara Hilo menuju Bandara Honolulu, Hawai, pada 28 April 1988.
Awalnya, para penumpang di bagian tengah depan sayap pesawat mendengar bunyi angin yang sangat kencang memasuki kabin. Kapten pilot Robert Schornstheimer yang berpengalaman 8.500 jam terbang merasakan pesawat bergoyang ke kiri dan kanan tak beraturan di ketinggian 7.300 meter dari permukaan laut.
Tak lama setelah itu, seorang awak kabin melihat potongan besi bergoyang di kabin bagian atas. Tiba-tiba bagian atas pesawat terbuka dan meledak karena perbedaan tekanan kabin dengan udara di luar pesawat. Badan pesawat bagian atas berlubang cukup besar, hampir setengah bagian tersebut terbuka sehingga penumpang bisa melihat awan biru dan merasakan angin kencang.
Sang kapten langsung memegang kendali dan mengarahkan pesawat ke bandara terdekat, laporan SOS disiarkan ke daratan. Setelah mengudara dengan bagian badan terbuka selama 13 menit, kapten menyatakan pesawat akan mendarat darurat di Bandara Kahului. Pesawat berhasil mendarat dengan selamat.
Akibat peristiwa ini, 65 dari 89 penumpang dan 6 awak mengalami luka-luka. Hanya seorang pramugari senior Clarabelle Lansing yang dinyatakan meninggal karena tersedot keluar pesawat saat terjadi ledakan dekompresi. Clarabelle saat itu memeriksa sabuk pengaman para penumpang sehingga ia tidak duduk di kursinya.
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan pesawat yang dipenuhi keajaiban. Lalu bagaimana dengan nasib MH370? Jika teori dekompresi itu benar, maka seharusnya sang kapten mampu mengambil tindakan yang sama dengan Kapten Robert. Namun teori dekompresi MH370 diikuti dengan dugaan pilot pingsan karena kehabisan oksigen.
"Ini adalah tragedi, kita berkabung. Kehilangan MH370 merupakan tragedi luar biasa. Jangan spekulasi, yang perlu kita cari itu pesawat supaya kita tahu yang sebenarnya terjadi," kata Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim.
(vid/dha)











































