"Saya sama pak Jokowi memang sengaja ditaruh di Jakarta untuk berantem sama koruptor-koruptor disini. Kami sudah muak dengan permainan korupsi yang nggak karuan seperti ini dan selalu bebas," kata Ahok dalam sambutannya di acara Sosialisasi ULP di Balai Agung, Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Kamis (13/3/2014).
Dalam aksi pemberantasan korupsi yang dilakukan, Ahok tidak peduli jika mendapatkan predikat negatif. Menurutnya, yang paling penting adalah DKI bebas dari perilaku koruptif.
"Saya bilang sama Dinas Pariwisata DKI, restoran dan hotel yang tidak mau ikut aturan tutup saja. Emang gue pikirin, kita nggak peduli mau WTP mau WDP asal nggak ada uang yang dicolong dari rakyat DKI. Sorry saja BPK, anda mau kasih saya WDP masa bodoh saya," ujar Ahok.
Mantan Bupati Belitung Timur ini kemudian menekankan, Pemprov DKI tidak membutuhkan tanda jasa dan penghargaan jika masih ada warganya yang sulit mendapatkan kesehatan. "Kami nggak butuh tanda jasa, gelar, piagam presiden. Yang penting rakyat dapat jaminan kesehatan," kata Ahok.
Komentar keras Ahok ini membuat para peserta acara terdiam dan suasana menjadi hening. Hanya kata-kata pernyataan perang Ahok yang menggema memenuhi ruangan.
"Mungkin saya sudah benar-benar gila. Saya berpikir, kalau untuk 10 juta orang hidup aman, saya harus bunuh 1000 orang dan saya dihukum mati, ya terpaksa saya lakukan. Saya sudah berpikir seperti ini. Kalau terpaksa, saya lakukan. Toh juga untuk dihukum mati masih panjang waktunya," ucap Ahok menantang para koruptor.
Kemudian Ahok menjelaskan maksud dari ajakan 'berantem' dengan koruptor itu. Menurutnya, perang melawan korupsi bisa dilakukan dengan menggunakan sistem elektronik seperti e-purchasing, e-catalog, dan e-tenderring dalam setiap pengadaan barang dan jasa. Sementara pelayanan dilakukan secara online.
(bil/vid)











































