Bahasa Hati-hati Polisi yang Disampaikan ke Ayah Ade Sara

Petaka Cinta Segitiga

Bahasa Hati-hati Polisi yang Disampaikan ke Ayah Ade Sara

- detikNews
Kamis, 13 Mar 2014 17:17 WIB
Bahasa Hati-hati Polisi yang Disampaikan ke Ayah Ade Sara
Ade Sara Angelina.
Jakarta - Sunarto kaget bukan main. Pria paruh baya yang bekerja sebagai pembantu keamanan di lingkungan Kelurahan Jati, Rawamangun, Jakarta Timur, itu mendadak didatangi polisi Bimas dari kelurahan. Di depan Masjid Asy Syuhada yang berseberangan dengan SMA 36 itu, polisi menanyakan salah satu warganya sambil menunjukkan pesan singkat SMS dari kepolisian di Bekasi.

“Saya baca alamatnya, Ade Sara, Jalan Layur Blok ABDC atas nama Bapak Suroto. Saya bilang itu betul warga saya. Waktu tanya ada apa, dia bilang enggak ada apa-apa. Dia enggak bilang ada mayat,” kata Sunarto, Rabu (12/03/2014), ketika berbincang dengan detikcom, ingatannya kembali menyusuri kejadian sepekan sebelumnya.

Begitu dibenarkan, tak lama muncul seorang polisi dari Bekasi. Sunarto mengantarkan tamunya ke rumah Suroto setelah meyakinkan bahwa tuan rumah ada di tempat. “Pintunya tertutup, saya ketok-ketok, 'Pak Suroto tolong buka pintunya, ini ada tamu, saya juga gak kenal'. Enggak saya bilang bahwa itu polisi,” ujar dia lagi.

Lama mengetuk, baru ada sahutan dari dalam. Begitu dibuka, ternyata yang punya rumah ada di ruang tamu. “Bapak itu lagi pegang handphone, dia duduk, mungkin dia sudah pusing nelepon sana sini,” ujarnya. Anggota kepolisian itu hanya diantarkan sampai pintu dan Sunarto tidak mendengar isi pembicaraan mereka.



Suroto sendiri sudah dua malam tak bisa tidur. Sejak Senin, Ade Sara Angelina, putrinya yang tinggi semampai tak pulang ke rumah. Senin pagi, dia masih mengantarkan putrinya kuliah, walau hanya sampai stasiun Klender. Biasanya Ade Sara menyambung naik kereta ke kampusnya Universitas Bunda Mulia. Biasanya juga dia selalu memberikan kabar kalau ada urusan yang membuatnya pulang larut.

Jadwalnya tiap Senin yakni les bahasa Jerman di salah satu lembaga kursus di bilangan Gondangdia membuatnya pulang agak lama, tapi tak pernah sampai di atas jam 9 malam. Suroto sudah mengirimkan SMS melacak posisi anak semata wayangnya itu. Teman-temannya hingga saudara di kampungnya pun ikut ditanya, tapi tak ada hasil. Sementara nomor ponsel Ade Sara bisa dihubungi, tapi tak diangkat.

Karyawan swasta di kawasan industri Pulogadung ini pun terus mencari hingga ia sama sekali tak bisa terlelap. Dua hari tak ada kabar berita, ia pun melapor ke Polsek Pulogadung pada Rabu pagi. Usai melapor, dia kembali ke rumah, mencoba istirahat. "Hari Rabu itu saya ambil cuti, saya enggak tahu mau kemana. Sampai di rumah, tahu-tahu ada yang ngetok pintu sekitar jam setengah dua belas,” kata Suroto menuturkan.

Tamu dari kepolisian itu memulai percakapan membawa kabar tentang anaknya yang sudah berhari-hari hilang. “Kepolisian dari Bekasi itu bilang anak saya ditemukan di Bekasi. Dalam hati, saya pikir, aduh, Sara ini pasti melakukan tindak kejahatan, makanya ditangkap,” kata dia.

Bagaikan petir di siang hari, ia sulit menerima kabar yang dibawa polisi. "Tapi polisinya berulang-ulang bilang dengan bahasa yang sangat hati-hati, anak saya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa,” ujar Suroto lirih sembari menunduk.

(ros/brn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini