Pembunuh Ade Sara Harus Dicek Kejiwaan Lagi

Petaka Cinta Segitiga

Pembunuh Ade Sara Harus Dicek Kejiwaan Lagi

- detikNews
Kamis, 13 Mar 2014 14:46 WIB
Pembunuh Ade Sara Harus Dicek Kejiwaan Lagi
Assyifa Ramadani dan Ahmad Imam Al Hafitd.
Jakarta - Tenda warna gelap di Jalan Layur Blok ABCD, Kelurahan Jati, Rawamangun, Jakarta Timur, itu masih berdiri melintang di jalan raya, persis di depan kediaman Ade Sara Angelina Suroto. Beberapa orang tukang datang, lalu membongkar tenda.

"Sudah seminggu, orang yang berbelasungkawa sampai kemarin masih banyak, tapi mulai hari ini orang tuanya Ade sudah kembali kerja,” kata salah satu tetangga Ade Sara, Sunarto (52) saat ditemui detikcom, Rabu (13/03/2014).

Sedari siang, rumah mungil yang berdempet rapat dengan rumah tetangga itu tampak sepi. Tanda berkabung sudah mulai dibongkar. Kedua pelaku pembunuh Ade Sara (18) yaitu Assyifa Ramadani (18) dan Ahmad Imam Al Hafitd (19) sejauh ini belum dapat dipastikan apakah pasangan kekasih itu psikopat atau bukan.

Psikolog Sani Budiantini Hermawan mengatakan perlu tes psikologi secara komprehensif terhadap kedua pelaku. Kematian tragis dengan penyebab penyiksaan dinilai tidak lazim mengingat usia dua pelaku yang masih terbilang muda.


Sani menyebut kedua pelaku memiliki jiwa personality yang sadistis kalau mengacu penganiyaan hingga berujung kematian. Salah satunya dengan menyetrum tubuh serta menyumpal mulut korban. “Melakukan hal itu di usia segitu tidak lazim. Harus dicek lagi kejiwaannya secara menyeluruh apakah ini berpotensi gangguan kepribadian yang lebih berat lagi,” kata Sani saat dihubungi detikcom, Rabu (12/03/2014).

Psikolog Universitas Indonesia ini menduga motif utama yang menyebabkan kematian ini lebih karena balas dendam serta sakit hati. Terkadang, menurutnya persoalan cinta itu melibatkan emosi yang mengalahkan logika berpikir. Emosi dalam cinta telah membuat nalar seseorang untuk berpikir sehat tertutupi.

Apalagi ini terkait dengan cinta segitiga yang membuat perasaan dua pelaku seperti tidak ada harga diri karena tak berhasil mendapatkan tujuan kasih sayang yang diinginkan.

“Sakit hati mendalam ini menunjukkan sikap agresivitas yang kemudian muncul untuk menghakimi. Masa remaja itu super sensitif, mencari jati diri, meraca kecewa kalau tidak ada respons baik. Ini ada kepribadian yang sangat sensitif,” ujar praktisi psikolog keluarga dan perkembangan anak ini.

Selanjutnya yang perlu dilihat, dalam kaca mata Sani adalah latar belakang kedua pelaku. Perilaku tega menyakiti dengan menyiksa bisa terjadi karena pengaruh eksternal dan internal saat usia anak-anak. Dia berpendapat ada yang salah dalam pembinaan terhadap dua pelaku ketika masih anak-anak hingga remaja.

Faktor keluarga dan lingkungan sosial yang longgar membuatnya terkontaminasi dalam menjalankan perilaku kehidupannya. “Kabarnya yang cowok itu anaknya dokter aborsi, pernah ditahan pula. Kalau benar, ini jadi pertanyaan karena orangtua seharusnya jadi guru paling baik,” sebutnya.




(brn/brn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads