Syifa dan Hafitd Disebut Bukan Psikopat

Petaka Cinta Segitiga

Syifa dan Hafitd Disebut Bukan Psikopat

- detikNews
Kamis, 13 Mar 2014 13:11 WIB
Syifa dan Hafitd Disebut Bukan Psikopat
Assyifa Ramadani dan Ahmad Imam Al Hafitd.
Jakarta - Banyak kalangan menilai dua pembunuh Ade Sara Angelina (18) yakni Assyifa Ramadani (18) dan Ahmad Imam Al Hafitd (19) adalah psikopat. Munculnya anggapan bahwa kedua pelaku penderita ganggguan jiwa yang identik dengan perilaku kejam tanpa penyesalan itu mencuat saat Syifa dan Hafitd diperiksa penyidik di Polres Bekasi.

Ketika itu, wajah Syifa dan Hafitd --yang merupakan pasangan kekasih-- tidak menampakkan rasa bersalah, tertekan, atau menyesal. Bahkan Syifa dalam pemeriksaan itu terlihat tersenyum. Lalu apakah sudah bisa dipastikan bahwa keduanya psikopat?

Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyebut kedua pelaku bukanlah psikopat. Dia juga menyebut kematian Ade Sara juga dilakukan secara tidak sengaja oleh Hafitd dan Syifa.

Reza menjelaskan psikopat itu memiliki beberapa tanda seperti di antaranya kecerdasan di atas rata-rata dan berdaya adaptasi tinggi terhadap situasi. Gambaran Syifa yang malah mengumbar senyum saat diperika kepolisian, dalam pandangan Reza, tidak menjamin perempuan belia itu memiliki perilaku psikopat. Pun begitu dengan Hafitd.

“Sukar membedakan antara psikopat dan bukan psikopat. Istilah yang terkesan ilmiah itu tidak membantu mendudukkan masalah menjadi lebih jernih,” kata Reza kepada detikcom, Rabu (12/03/2014).


Di balik kematian Ade Sara, dia lebih menduga kedua pelaku memiliki motif yang berbeda satu sama lain saat melakukan aksinya. Hal ini terlihat dari pernyataan keduanya saat diperiksa polisi.

Awalnya, menurut Reza, ada kemungkinan Hafitd ingin mengungkapkan kekecewaannya dengan bertemu korban. Tapi, hanya sekadar bersikap keras bukan untuk menghabisi bekas pacarnya itu. Beda dengan Syifa yang kemungkinan memiliki motif lebih dibandingkan Hafitd karena tak ingin pacarnya itu berkomunikasi lagi dengan Sara.

Namun, karena di luar dugaan, dia memprediksi Sara bertindak emosi dan memberikan perlawanan yang membuat kedua pelaku tersebut panik sehingga khilaf menganiaya hingga berujung kematian. Karena panik, Hafitd pun menggunakan alat setrum sebagai tindakan spontan untuk menjinakkan perlawanan korban.

Perilaku yang seharusnya ingin sekadar menganiaya dalam sekejap berubah menjadi perbuatan berakibat fatal. Keduanya disinyalir melakukan serangkaian tindakan kekerasan terhadap Sara tanpa niat membunuh. Tapi, berakhir tragis yang juga tidak diduga oleh kedua pelaku.

“Itu saya duga di luar kendali mereka sendiri. Kematian ini lebih sebagai sebuah kecelakaan ketimbang sebagai bahan bagian dari rencana aksi kekerasan,” ujar pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian ini.

Reza menekankan, aparat kepolisian perlu bersikap kritis menyikapi kedua pelaku ini. Sebagai orang sipil biasa, Hafidt dan Syifa mengalami momen kecemasan luar biasa pascakejadian. Dia merincikan beberapa hal yang bisa dialami adalah munculnya sensasi disorientasi, mulai dari linglung hingga rusaknya ingatan menjadi fenomena umum bagi individu setelah mengalami peristiwa yang tak terduga.

“Ini ditambah dengan tekanan dari situasi interogasi saat pikiran tidak jernih, tubuh tidak fit, mengakibatkan tersangka rentan memberi pengakuan yang keliru termasuk pengakuan mereka yang sengaja merencanakan aksi pembunuhan,” kata alumni Psikologi Forensik The University of Melbourne itu.


(hat/brn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads