"Waktu kelas 1 SD saya terbelakang, hampir nggak naik kelas. Saya nggak sabar tunggu lonceng bunyi untuk main gundu dan bola dengan teman yang lain," kata Dino dalam Seminar Kebijakan Pemerintah dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013 di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (13/3/2014).
Kala itu, Dino merasa sangat bodoh. Sampai suatu hari ia pindah sekolah pada kelas 3 SD. Dino berubah menjadi bersemangat dalam belajar.
"Guru kelas 3 SD yang mulai mendisiplinkan saya. Saya mulai mencintai ilmu dan langsung terpancing untuk selalu menjadi nomor 1," kenangnya.
Di hadapan ratusan guru SD dan SMP tersebut, Dino menjelaskan betapa pentingnya kedekatan batin dan intelektual antara guru dan murid. Menurutnya guru tak sekedar pendidik namun juga kawan.
"Saya senang bersaing. Kalau nggak bisa menjawab soal, saya nggak bisa tidur berhari-hari. Saya selalu bernafsu membaca," ucap peserta konvensi Partai Demokrat ini.
"Saya selalu lulus nomor 1 kemudian menjadi dubes, nomor 1. Dan sekarang saya mencalonkan diri sebagai presiden dan sebagainya," tambah Dino.
Ia juga mengimbau para guru yang hadir dalam acara tersebut untuk tidak meremehkan hal-hal kecil yang dilakukan anak didiknya. Sebab bisa jadi hal kecil tersebut adalah potensi besar si anak didik.
Seperti yang pernah dialaminya saat sekolah dasar. Dino pernah menyeletukkan lelucon saat gurunya mengajar. Ia kemudian dipanggil guru tersebut.
"Saya ketakutan. Dia kemudian bilang, 'ternyata kamu bisa melucu ya'. Itu salah satu hal yang membuat saya bisa menjadi dubes," tutupnya.
(kff/rvk)











































