Para Difabel Protes Syarat SNMPTN: Kenal Stephen Hawking Nggak Sih?

Para Difabel Protes Syarat SNMPTN: Kenal Stephen Hawking Nggak Sih?

- detikNews
Rabu, 12 Mar 2014 20:23 WIB
Para Difabel Protes Syarat SNMPTN: Kenal Stephen Hawking Nggak Sih?
Stephen Hawking (Foto: Getty Images)
Jakarta - Beberapa jurusan eksakta dan sosial di SNMPTN 2014 mensyaratkan pendaftar yang bukan penyandang disabilitas. Perwakilan penyandang disabilitas yang mendemo Kemendikbud akhirnya diterima pejabat kementerian itu. Mereka sempat menyinggung tentang Stephen Hawking.

"Jurusan fisika di UI nggak boleh tunanetra, tunarungu, tunadaksa. Ibu kenal nggak sih Stephen Hawking? Dia ahli fisika dan dia tuna daksa. Beliau bisa," sindir Ketua Dewan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Ariani Sunggoro.

Hal itu dikatakan Ariani saat diterima pejabat Kemendikbud di kantornya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (12/3/2014). Pejabat Kemendikbud yang menerima para penyandang disabilitas adalah Kasi Sistem Pembelajaran Dikti Kemendikbud, Eva Wany dan Kepala Studi Kemahasiswaan Sub Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Widyo Dinarso.

Stephen Hawking adalah fisikawan yang menelorkan teori black hole dan meneliti relativitas umum. Hawking adalah difabel karena didiagnosa menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS atau penyakit Lou Gehrig’s) yang mematikan kendali saraf otot dalam tubuh.

Ariani menambahkan, ada PTN yang tak mengizinkan penyandang disabilitas untuk masuk teknik seperti teknik arsitektur. Namun kenyataannya ada arsitek yang tuna netra. Pula, jurusan yang dulu terbuka bagi penyandang disabilitas kini malah tertutup.

"Kami terkejut universitas negeri yang pernah menerima disabilitas malah menolak. Persyaratan yang ditulis di SNMPTN itu menyinggung perasaan kami dengan detil. Kayanya apa PTN takut dikeroyok sama disabilitas? Cukup sekali ditulis saja sudah ngerti, nggak perlu berkali-kali," kata Ariani.

Dia mengimbau agar kata 'cacat' itu juga diganti kata disabilitas berkebutuhan khusus dalam persyaratan SNMPTN.

"Persoalannya menurut Dikti, ini perlu untuk jadi standar agar tunanetra tidak masuk ke kedokteran. Yang kami butuhkan itu, tidak ada lagi pengumuman yang tidak mendiskreditkan semua golongan. Kalau ini tidak diubah ke depan, akan terkelompok-kelompok terus pikirannya," gugat Ariani.

Ariani menyoroti beberapa PTN yang dinilai diskriminatif padahal PTN itu memiliki pusat studi penyandang disabilitas. Padahal dalam hal kemampuan akademis, penyandang disabilitas itu mampu.

"Di UI ada pusat kajian disabilitas, kenapa sekarang malah dilarang? Di Unibraw juga ada Disability Center, tapi malah tidak menyediakan kuota. Saya rasa martabat universitas menurun di mata luar negeri karena tidak memberi ruang bagi para disabilitas. Banyak sekali hambatan-hambatan, sudah jelas mahasiswa tunarungu mendaftar kedokteran gigi dan dia lulus," tutur Ariani yang juga tunanetra ini.

Seharusnya, penyandang disabilitas ini tidak perlu ditolak masuk PTN. Yang diperlukan, penyandang disabilitas ini hanya pelayanan untuk berkebutuhan khusus.

"Bukan khusus yang gimana. Tapi misalnya saya duduk di depan dan pada saat ujian bisa dibantu teman sebelah untuk membacakan soal. Dulu saya bisa itu kaya gitu. Sekarang kan juga ada kemajuan IT, bisa memberi tunanetra untuk mengakses semuanya," tutur Ariani.

PTN Belum Siap

Pihak Kemendikbud menjelaskan sebenarnya untuk menerima penyandang disabilitas, PTN harus memiliki fasilitas-fasilitas khusus. Dan kebanyakan PTN belum memiliki fasilitas itu.

"Tidak semua disabilitas disiapkan. Kalau tunarungu kan harus ada volunter tangan (bahasa isyarat). Kalau kursi roda kan harus ada parkiran khusus. PT harus siap kan. Bagi yang itu kan masih terbatas. Tidak semua disabilitas itu sama. Karena kita perlu latih dulu dosennya, fasilitas dan sarana prasarana," tutur Kasi Sistem Pembelajaran Dikti Kemendikbud Eva Wany.

Untuk tahun 2013, Kemendikbus sudah menyediakan fasilitas penyandang disabilitas di Unibraw-Malang, Unesa-Surabaya, UNJ-Jakarta dan UPI-Bandung.



(nwk/mok)


Berita Terkait