Pidato Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada Senin (10/3) lalu itu memantik tanda tanya. Di hadapan ratusan pegawai pemerintah provinsi, pria yang akrab disapa Jokowi itu menitipkan kota berpenghuni 10 juta lebih ini kepada bawahannya.
“Saya titip Jakarta ke Bapak dan Ibu" begitu kata Jokowi di depan ratusan PNS DKI di Balai Kota Senin lalu. Kalimat tersebut diulang mantan Wali Kota Surakarta itu sampai tiga kali. Banyak yang mempersepsikan kalimat tersebut sebagai kata pamit.
Maklum kini nama Jokowi santer disebut bakal diajukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai calon presiden 2014-2019. Namun pihak yang kontra mempertanyakan niatan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benarkah Jokowi ingkar janji?
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Lasro Marbun membantah bahwa Jokowi mengingkari sumpah jabatan jika menjadi calon presiden, “Kalau dipanggil untuk tugas yang lebih besar, di mana bangsa memanggil, butuh dan merindukan sosok itu (Jokowi), saya kira justru bersalah kalau tidak dipenuhi,” kata Lasro Marbun kepada detikcom hari ini Rabu (12/3).
Menurut dia, masa jabatan dengan kontrak lima tahun, tidak bisa dijadikan alasan untuk menyempitkan pengabdian. Itu sebabnya, ia beranggapan tak ada yang salah jika Jokowi mundur meski belum genap lima tahun masa jabatannya. Toh sebagai kepala Negara dan pemerintahan, tentunya Jakarta juga akan jadi bagian perhatiannya sebagaimana wilayah lainnya.
“Tanah air dan bangsa ini sesuatu yang holistik. Jadi kalau berjanji, itu kan janji kepada anak bangsa juga, yang kebetulan waktu itu tinggal di Jakarta. Kalau dia jadi berangkat untuk tugas yang lebih besar, janjinya untuk tanah air dan bangsa, di dalamnya ada janji yang pertama itu. Di mana (janjinya) teringkari?,” kata Lasro.
Justru apabila Jokowi menjadi presiden, maka pengabdiannya akan bertambah menjadi 6,5 tahun, yakni 1,5 tahun untuk Jakarta dan 5 tahun bagi bangsa.
Ia optimistis, jika Republik Indonesia mempunyai tokoh pemimpin seperti yang sudah dibuktikan Jokowi di Jakarta, maka ia akan bisa jadi panutan bagi kepala daerah di bawahnya. “Kalau misalnya itu jadi kenyataan, kan jadi patron. Sebab jika Jakarta benar, belum tentu Indonesia benar. Tapi kalau Indonesia benar, maka seluruh wilayah republic ini jadi akan lebih baik,” kata Lasro.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah Jakarta Endang Widjajanti juga memiliki pendapat serupa. Menurut dia bukan hanya Jakarta saja yang berharap bisa dibenahi oleh sosok seperti Jokowi, tapi seluruh Indonesia. Meski sejauh ini menurut Endang, dalam interaksi keseharian Jokowi dengan pegawai Pemda tak menunjukkan tanda-tanda akan mundur.
Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli juga tak mempersoalkan rencana diajukannya nama Jokowi sebagai calon presiden. Bahkan lurah berparas ayu itu berharap Jokowi berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) maju sebagai calon presiden dan wakil presiden 2014-2019.
Menurut dia Jokowi-Ahok adalah kombinasi yang pas dan tidak bisa dipisahkan terlalu lama. Kinerja yang saling mengisi dan melengkapi dianggap sebagai kelebihan pasangan ini.
“Kalau menurut saya cocok berdua itu pasangan dan gandengan buat mimpin bangsa Indonesia. Kalau bisa jangan dilepas keduanya,” kata Susan saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/3) kemarin.
(erd/erd)











































