Mendikbud Contohkan Susahnya Difabel Masuk Jurusan Eksakta: Mohon Dipahami

Mendikbud Contohkan Susahnya Difabel Masuk Jurusan Eksakta: Mohon Dipahami

- detikNews
Rabu, 12 Mar 2014 15:44 WIB
Mendikbud Contohkan Susahnya Difabel Masuk Jurusan Eksakta: Mohon Dipahami
(Foto: Ayunda W Savitri/detikcom)
Surabaya - Para penyandang disabilitas memprotes syarat SNMPTN 2014 ini yang dinilainya diskriminatif karena mencantumkan syarat: tidak tunanetra-tunarungu-tunawicara-tunadaksa. Mendikbud M Nuh memberikan contoh bila para penyandang disabilitas itu masuk ke jurusan eksakta, kedokteran atau teknik. "Mohon bisa dipahami," kata Mendikbud.

"Misalkan saja yang paling sederhana untuk teknik kimia itu dia harus melihat, reaksi-reaksi kimia yang harus dilihat dan kalau nggak bisa terus gimana ceritanya?" kata Mendikbud M Nuh.

Hal itu disampaikan Mendikbud usai acara 'Gelar Demonstrasi Alutsista Baru Milik TNI AL' di Komando Armada Timur (Koarmatim), Surabaya, Jawa Timur, Rabu (12//3/2014).

Mendikbud mencontohkan lagi bila penyandang disabilitas itu memasuki jurusan kedokteran.

"Kedokteran misalkan, gimana kalau dia mau praktik tapi ada keterbatasan yang memang praktiknya harus dipenuhi itu. Misalkan mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, orang taruhlah tunanetra mau jadi dokter masuk ke Fakultas Kedokteran, kan repot," tutur dia.

Dia memberikan contoh lagi bila masuk Akademi Militer yang mensyaratkan tinggi minimal, bila kurang dari tinggi minimal, misalnya 150 cm ya jelas tidak bisa lolos. Untuk bidang teknik, bidang arsitektur masih bisa menerima.

"Kalau bidang-bidang misalkan, arsitektur bisa, di teknik juga ada, di teknik tertentu yang keterbatasannya tertentu bisa. Tapi ada beberapa yang juga harus dipenuhi semuanya. Karena nanti kalau dipaksakan yang kasihan anaknya sendiri atau yang kasihan dia yang tidak bisa memberikan layanan terbaiknya bagi masyarakat," tutur dia.

Perguruan Tinggi, imbuhnya, bukan melakukan diskriminasi, melainkan bidang yang harus dimasuki memerlukan persyaratan tidak difabel. "Ya mohon bisa dipahami jadi contoh itu," tutur mantan Rektor ITS ini.

Mendikbud menambahkan bukan berarti yang memiliki keterbatasan fisik tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi, sepanjang bidangnya memungkinkan, para penyandang disabilitas bisa melanjutkan pendidikannya.

"Oleh karena itu bukan perguruan tingginya (yang mensyaratkan) tapi sekali lagi bidangnya yang memang memerlukan persyaratan itu. Oleh karena itu tetap harus dibuka sepanjang bidangnya itu ilmunya masih dimungkinkan, harus diterima. Kita tidak boleh ada diskriminsi yang diakibatkan oleh keterbatasan fisik, sama sekali tidak boleh," tegas Mendikbud.

(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads