Kisah Pekerja Switch Over Rel yang Bertaruh Nyawa dan Waktu

Kisah Pekerja Switch Over Rel yang Bertaruh Nyawa dan Waktu

- detikNews
Rabu, 12 Mar 2014 14:16 WIB
Kisah Pekerja Switch Over Rel yang Bertaruh Nyawa dan Waktu
Pekerja switch over (Edward/ detikcom)
Semarang - Terik panas matahari menyengat hingga ubun-ubun kepala. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat ribuan pekerja proyek switch over rel kereta di stasiun Randublatung, Semarang.

Siang ini ribuan pekerja sibuk mengerjakan switch over rel sejauh 16 KM sebagai bagian dari proyek double track. Berbekal linggis, godam dan beberapa alat berat, mereka mengganti rel tunggal menjadi rel ganda. Setidaknya sudah hampir satu pekan terakhir bekerja secara berkala.

"Lumayan capek juga, kerja dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore," ujar salah seorang pekerja, Sutiyo saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (12/3/2014).

Sebagai pekerja keras, panas terik matahari sudah biasa dirasakannya. Untuk menghalau sengatan matahari, ia melindungi bagian kepalanya dengan baju. Sesekali air dari dalam teko disiramnya ke bagian kepalanya.

"Dari pada diam aja di rumah mending kerja seperti ini," tuturnya.

Berbekal palu, Suroyo bekerja mengantikan kait baja sepanjang rel kereta. Meski tenaganya dikuras, raut wajah Suroyo tidak menujukkan rasa letih.

"Kerja kayak gini enaknya bareng-bareng," kisahnya sambil tersenyum.

Selain terik matahari, mereka juga harus bertaruh dengan nyawa. Bagaimana tidak, setiap beberapa jam sekali kereta-kereta penumpang dan barang lewat di jalur tersebut. Dari kejauhan mandor mereka sibuk memperhatikan serta mengawasi kedatangan kereta.

"Awas ada kereta, minggir semua," teriak sang mandor.

Usai kereta lewat, pekerja pun melanjutkan kembali bekerja. Hasil jerih payah mereka pun dihargai Rp 130 ribu. Mayoritas mereka yang berkerja merupakan petani yang beralih profesi tatkala musim paceklik datang mendera.

"Lumayan buat nambah-nambah biar dapur bisa ngebul terus," tuturnya.

Suroso (56) mengaku telah bekerja cukup lama. Ia berkerja dibagian pergantian rel.

"Enak nggak enak dibuat enak aja," ujar pria memakai topi pincuk itu.

Ia rela mempertaruhkan nyawa demi anak dan istri di rumah. Terkadang demi mendapat uang lebih, ia harus meninggalkan istrinya berhari-hari.

"Ya, kerja kayak gini mana enaknya, kadang-kadang kita sendiri harus nombok buat makan," ungkapnya.

(edo/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads