"Capek saya, Pak Moko urus dulu," ujar Ahok sambil keluar dari ruang rapat wagub di gedung Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2017).
Melihat Ahok meninggalkan ruang rapat, Plt Sekda DKI Wiryatmoko, Kepala BPKD Endang Widjajanti, Kepala UP TransJakarta Pargaulan Butar Butar, dan Kepala Dinas Pelayanan Pajak DKI Iwan Setyawandi kaget. Belasan orang yang terdiri dari pengusaha yang ingin memberi bus dan bawahan Ahok juga berdiri lalu mengikutinya keluar.
Kejadian itu bermula saat seorang pengusaha Antonius Wenoe bersama Telkomsel dan Ti-phone serta lainnya menyerahkan bantuan 30 bus sedang kepada Pemprov DKI. Namun para pengusaha dipersulit.
"Kita ini sudah terkumpul 30 bus. Mau delivery, susahnya minta ampun. Ada yang mau komit dan kasih, karena bertele-tele, tidak jadi. Saya ini sudah setahun ke pemda untuk urusin bus ini. Kita frustasi, Pak. Bus itu mau diterima atau tidak. Kalau tidak mau diterima bus mau dijual lagi," kata Antonius di kantor Ahok, Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2014). Antonius tiba-tiba menggebrak meja. Brak!
Ahok marah pada anak buahnya yang memberi pajak pada penyumbang bus yang akan mengiklankan produk mereka.
"Kita ini sudah mau disumbang bus masih mau dikenakan pajak coba. Lama-lama saya berpikir DKI ini memang suka beli bus sendiri. Biar bisa nyolong komisi, luar biasa memang pintar-pintarnya pegawai DKI ini. Lama-lama saya nanti jadi paranoid gara-gara dengan kalian yang suka main tender," kata Ahok dengan suara tinggi.
Sebelum menghadiri pertemuan itu, Ahok juga sudah terlihat marah. Bahkan sebelumnya wartawan tidak diperbolehkan masuk oleh staf Pemprov.
"Ini biarkan saja wartawan masuk biar mereka mengerti. Aku ini sudah benci caranya begini. Orang sudah nyumbang bus masih disuruh bayar pajak. Sekarang saya tanya berapa coba bayar pajak yang pasang iklan di bus Mayasari itu semuanya?" tutur Ahok.
(spt/mad)











































