"Di dalam itu enggak ada alat pemadam api atau palu buat pemecah kaca untuk evakuasi seperti di transportasi lain," ujar Yuri, Mahasiswa UI, penumpang KRL Bekasi-Kota yang ditemui wartawan di Buaran, Jakarta Timur, Senin (10/3/2014).
Yuri menungkapkan asap hitam yang memasuki tiap gerbong. Membuat kondisi penumpang panik. "Kita cuma bisa minta tolong, penumpang yang lain berusaha pecahin kaca tapi enggak pecah-pecah. Sampai akhirnya pintu terbuka," tuturnya.
Sementara Boy (41) mengungkapkan kekecewaannya terhadap PT KCJ, hal ini disebabkan tidak ada prosedur evakuasi yang dilakukan.
"Kita harus loncat digerbong dengan tinggi dua meter, gila saja itu. Masalahnya ini transpotasi publik kok enggak ada tanggung jawabnya," tutur Boy.
Menurutnya kereta tersebut sempat berhenti selama setengah jam. Saat itu kondisi gerbong sudah tidak ada penumpang. "Penumpang terlantar begitu aja ditengah rel. Tak lama kereta jalan lagi tanpa ada aba-aba dan meninggalkan kita," imbuhnya.
Boy menuturkan jarak untuk ke stasiun terdekat saja bisa 2 kilometer. Sedangkan tidak ada pemberitahuan sama sekali dari masinis. "Boro-boro mereka beritahu lagi atau bagaimana, kita ditinggal begitu saja. Saya di sini sudah hampir sejam lebih," ketusnya.
(edo/nal)











































