Siapa Pengganti Puteh?
Selasa, 07 Des 2004 18:43 WIB
Jakarta - Suasana meuligo atau pendopo, yang sehari-hari menjadi rumah dinas gubernur NAD, Abdullah Puteh terlihat lengang, Selasa (7/12/2004) sore. Sang isteri, Marlinda Poernomo dikabarkan juga tak berada di rumah yang dibangun semasa zaman Belanda itu. Akankah keluarga Puteh hengkang dari pendopo? Pasal 5 Peraturan Presiden no.2/2004 tentang Pernyataan Perpanjangan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Provinsi NAD, jelas disebutkan, selama dalam proses hukum oleh KPK, pelaksana tugas dan kewenangan sehari-hari gubernur NAD dilaksanakan Menko Polhukkam sebagai Ketua Badan Pelaksana Penguasa Darurat Sipil Pusat (PDSP). Tapi selanjutnya, Menko Polhukkam dapat menugaskan seorang anggota Penguasa Darurat Sipil Daerah (PDSD) yang ada di Aceh.Di awal-awal darurat sipil di Aceh, Jabatan PDSD melekat langsung pada Puteh, sebagai gubernur. Tapi, ketika KPK dan Mabes Polri mulai intens menyelidiki kasus-kasus korupsi yang disebut-sebut melibatkan dirinya, jabatan itu kemudian dicopot pemerintah. Tugas dan wewenang pria kelahiran Idi, Aceh Timur pada 4 Juli 1948 ini, dialihkan ke Kapolda NAD Irjen Pol Bachrumsyah Kasman. Kini, setelah ditahan di Rutan Salemba terkait dugaan korupsi dalam kasus pembelian helikopter MI-2 buatan Rusia senilai Rp 12 miliar, boleh jadi tugas dan wewenang Puteh sebagai gubernur akan segera dialihkan. Hal ini merujuk pada Keputusan Presiden no 2/2004.“Jika sudah ditahan, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menonaktifkan Puteh dan kita berharap pemerintah segera menunjuk seorang untuk mengemban tugas-tugas Puteh sebagai gubernur,” ujar Rufriadi, salah seorang praktisi hukum di Banda Aceh pada detikcom, Selasa (7/12/2004). Meski begitu, Rufriadi berharap agar pihak-pihak terkait tidak menarik persoalan Puteh ini dalam ruang politik.Akhiruddin, juru bicara Aceh Damai Tanpa Korupsi (ADTK) pada sejumlah wartawan menyambut positif penahanan Puteh yang dilakukan KPK. “Alhamdulillah. Hukum msih berpihak pada 4,2 juta rakyat Aceh. Pekerjaan kami selama ini jadi terasa tidak sia-sia dan hal ini membuat kami tidak ragu-ragu untuk membongkar kasus korupsi lainnya,” tegas Akhiruddin.Sang Isteri juga di JakartaSementara itu, ketika wartawan di Banda Aceh mencoba menghubungi Marlinda Poernomo, isteri Abdullah Puteh, perempuan yang pernah menjadi presenter di TVRI Jakarta itu hanya sesaat mengangkat telepon selularnya. Begitu dia mengetahui bahwa wartawan yang menelepon, ibu satu anak ini langsung menutup teleponnya.Seseorang yang sehari-hari bertugas di pendopo yang tak bersedia namanya dikutip, pada detikcom mengatakan, Marlinda tengah berada di Jakarta. “Katanya, ibu ada urusan keluarga, menghadiri upacara pernikahan salah seorang kerabatnya. Ibu pergi lebih dulu dari bapak. Ibu sudah pergi sejak hari Minggu lalu,” ujarnya.Kepopuleran Marlinda di Aceh, yang acap hadir lewat TVRI siaran Banda Aceh saban sore dalam acara-acara agama ini, hampir menyamai Abdullah Puteh. Tak hanya giat dalam berbagai kegiatan sosial, sejumlah foto dirinya dalam berbagai busana Aceh terpasang dalam ukuran bilboard besar di beberapa kawasan strategis di Banda Aceh, mengkampanyekan keluarga Islam yang sakinah dan juga kegiatan PKK. Belakangan, foto anaknya, Raudah dalam bilboard ukuran besar, juga menjadi iklan gemar membaca di kawasan Neusu, Banda Aceh.
(asy/)











































