"Kalau dia mau membuat penelitian, mbok ya didukung dengan data yang cukup. Apalagi untuk meneliti hasil penelitian. Jangan cuma membaca berita di sebagian media lantas membuat kesimpulan bahwa hasil penelitian lembaga lain bermasalah," kata Direktur Sigma, Said Salahuddin kepada detikcom, Kamis (6/3/2014).
Menurut Said, jika Majalah Indonesia menyebut hasil survei Sigma bermasalah, kemungkinan majalah itu tidak cermat dan lengkap menghimpun data, atau justru dianggap sedang menjalankan misi yang terkait dengan persaingan bisnis di antara lembaga survei jelang Pemilu.
"Rilis resmi kami tidak pernah menyebutkan Wiranto sebagai yang tertinggi dalam survei. Dari 3 kategori yang kami buat, yaitu tokoh yang paling diinginkan, cukup diinginkan, dan kurang diinginkan menjadi presiden. Nama Wiranto hanya masuk dalam kategori yang kedua," ujarnya.
"Itupun masih dibawah Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kategori pertama secara berurutan ditempati oleh Joko Widodo, Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, dan Mahfud MD," imbuh Said.
Jadi menurut Said, tidak benar jika ada pemberitaan yang menyebutkan Sigma merilis nama Wiranto sebagai Presiden yang paling diinginkan oleh para Jurnalis.
"Yang benar, pernah ada seorang wartawan media cetak bertanya kepada saya, di antara para ketua umum parpol siapa yang tertinggi? Nah, untuk pertanyaan itu saya benarkan bahwa Wiranto adalah ketua umum parpol yang lebih diinginkan sebagai Presiden," paparnya.
Soal metode, Sigma menggunakan metode kualitatif di kalangan wartawan. Soal nama-nama wartawan yang menjadi informan itu tidak mungkin disampaikan secara terbuka, kecuali ada ijin dari para informan.
"Semestinya Ade (Pimred Majalah Indonesia) paham soal unsur kerahasian informan dalam suatu survei. Namun kepada informan, saya bersedia dan pernah memperlihatkannya," ucapnya.
Sebelumnya, Majalah Indonesia 2014 membeberkan beberapa lembaga survei yang dinilai bermasalah dengan metodologi dan hasilnya. Salah satunya Sigma yang dianggap memenangkan Wiranto.
"Survei SIGMA Wiranto tertinggi. Ini bisa rekayasa atau kelemahan metodologis karena menurut SIGMA Wiranto tertinggi dengan responden 112 wartawan. Wartawan mana? Wartawan wewakili siapa? Wartawan daerah?" kata Pimres Majalah Indonesia 2014, Ade Armando di Kantor KPU Jalan Imam Bonjol, Selasa (4/3) lalu.
(bal/vid)











































