Debat Kasus Munir (5)
Menlu Bot Ingin Menguji RI
Selasa, 07 Des 2004 16:12 WIB
Den Haag - Meskipun diingatkan fraksi-fraksi bahwa Indonesia tidak bisa dipercaya, Menlu Bot menyatakan bahwa dia masih ingin memberi kesempatan Indonesia kali ini membuktikan diri untuk menepati janji-janji.Berikut ini kutipan pernyataan Menlu Bernard Rudolf Bot (Ben Bot) dengan format monolog, yang disampaikan dalam debat emergency kasus Munir di ruang plenair parlemen Belanda, Binnenhof, Den Haag, 1/12/2004 WIB lalu. Seperti telah disampaikan Menteri Yustisi (Donner), saya menerima laporan otopsi pada 10/11/2004, di mana selanjutnya langsung dibuatkan terjemahannya. Pada 11/11/2004 laporan tersebut diserahkan kepada Menlu Indonesia dan dibicarakan dengannya. Pada 18/11/2004 datang delegasi dari Indonesia ke Belanda dan pada 23/11/2004 mereka mengajukan permohonan untuk bantuan hukum. Jadi kira-kira seminggu lalu (sebelum debat 30/11/2004, red). Jika kita benar-benar menghendaki bahwa urusan seperti proses, prosedur hukum, dan tersangka harus diselidiki, maka timeline-nya harus diperhatikan.Saya telah menyampaikan hal-hal tersebut saat kunjungan ke Menlu Wirajuda pada 28/10/2004, dan saya juga membicarakannya ketika bertemu dengan presiden baru (SBY). Saya ketika itu menyampaikan bahwa aktifis HAM (Munir) ini meninggal karena peracunan. Selanjutnya saya mengatakan, tentu masalah ini ada di wilayah hukum anda untuk menilainya. Namun saya juga mengingatkan bahwa kasus ini menimbulkan guncangan besar di negara kita, sehingga kita akan terus memonitornya dengan ekstra teliti. Tuan Wirajuda menanggapi dengan cara yang sama: begitu dia menerima laporan definitifnya, dia akan serius memperhatikannya, sebab dia mengenal Munir.Kapan kita akan melangkah untuk mengambil tindakan? Saya mendapat kesan kuat bahwa Indonesia, terlebih setelah pergantian presiden dan adanya orang-orang baru, sangat serius mengusut kasus ini. Orang tahu bahwa kasus ini menyita perhatian di Belanda dan Indonesia. Otoritas Indonesia akan melakukan segala cara yang memungkinkan agar terselenggara proses hukum yang baik. Tentang ini saya sendiri telah mengecek: presiden Yudhoyono Kamis lalu telah menerima istri Munir dan organisasi HAM. Ini menunjukkan betapa kasus ini mendapat prioritas di pihak otoritas Indonesia. Saya ingin beranjak dari rasa percaya pada otoritas Indonesia, bahwa penyelidikan serius akan dilakukan. Bukan hanya karena kita mendesaknya, tetapi juga DPR Indonesia. Saya tahu bahwa presiden (SBY) mempertimbangkan untuk menunjuk para ahli independen dalam tim penyelidik. Pengiriman duta HAM ke Indonesia dan penjatuhan sanksi baru kita lakukan jika kita memiliki tanda-tanda bahwa pemerintah Indonesia tidak kooperatif dan ada unsur impunity. (Sejauh ini) hal itu belum terjadi. Kita baru seminggu menangani kasus ini dan apa yang dapat kita lakukan adalah sedikit mempercayai otoritas di sana. Ada presiden baru dan tanda-tandanya sejauh ini cukup positif. Saya berpendapat bahwa kita perlu menunggu sebentar. Jika Belanda langsung mengirim duta HAM atau membatalkan bantuan pembangunan, itu kurang tepat dan tidak efektif. Kita mendapat garansi dari berbagai pihak bahwa akan ada penyelidikan yang prima. Baik Menlu (Wirajuda) maupun presiden (SBY) pada kunjungan saya mengatakan bahwa mereka sangat memperhatikan kasus ini dan akan ada penyelidikan serius dengan mengikutsertakan para ahli independen. Mereka melibatkan organisasi-organisasi HAM dan membicarakannya dengan janda Munir. Itu semua adalah permulaan yang membangkitkan kepercayaan. Pada saat ini saya berkeyakinan seperti itu, tapi itu tidak berarti bahwa saya akan seperti Jopie blo'on (ungkapan 'si kabayan' Belanda, red) dengan hanya melongo di pinggiran. Kita telah menugaskan dubes kita untuk memonitor (kasus ini) secara ketat. Dia akan secara teratur melakukan kontak dengan otoritas Indonesia untuk terus mengingatkan betapa penting penyelesaian kasus ini di mata kita. Kita harus mengupayakan proses yang fair dan tetap mengawasinya.Begitu ada indikasi sedikit saja untuk ragu pada independensi atau keseriusan penyelidikan, kita akan langsung mengambil tindakan. Janji-janji dari pihak otoritas Indonesia dan misi yang langsung datang ke Belanda untuk meminta bantuan hukum, memberi saya rasa percaya bahwa penanganan kasus ini berada di jalur yang benar. "Saya ingin menunggu dulu," demikian Bot.Keterangan foto: Suasana sidang di ruang plenair parlemen Belanda, Binnenhof, Den Haag (dok/es).
(es/)











































