Kiai Sepuh NU Beri Mandat Gus Dur Susun PBNU Baru
Selasa, 07 Des 2004 16:03 WIB
Jakarta -
Hasil pertemuan Gus Dur bersama para kiai sepuh NU di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon memutuskan untuk melakukan mufarokoh (pemisahan) dengan PBNU kepengurusan Hasyim Muzadi. Selain itu, para kiai memberikan mandat kepada Gus Dur untuk membentuk kepengurusan PBNU yang baru.Demikian diungkapkan Ayib Abbas, putera KH Abdullah Abbas pimpinan Pondok Pesantren Cirebon, saat dihubungi detikcom, melalui sambungan telepon, Selasa (7/12/2004).Sebelumnya, Gus Dur bersama dengan kiai NU mengadakan pertemuan di kediaman Kiai Abdullah Abbas komplek Pondok Pesantren Buntet, desa Maratapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Cirebon. Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 12.00 WIB berakhir pada pukul 14.20 WIB. Pertemuan menghasilkan tiga keputusan. Pertama menindaklanjuti mandat kiai-kiai sepuh NU kepada Gus Dur untuk membentuk lembaga PBNU yang benar dan bukan tandingan. Kedua, sesuai dengan tausiah kiai sepuh, maka dalam musyawarah ulama sepuh di Pondok Pesantren Buntet Cirebon diambil keputusan mufarokoh atau pemisahan."Keputusan lainnya kita juga tidak mendukung kepengurusan PBNU hasil Muktamar NU ke 31 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali beberapa waktu lalu," kata Ayib Abbas.Keputusan ketiga, merealisasikan mufarokoh itu akan dibentuk struktur, kepengurusan di tingkat daerah maupun pusat, di dalam negeri maupun luar negeri."Keputusan itu sudah bulat. Hanya untuk detailnya seperti apa akan dibicarakan kemudian. Misalnya soal kapan pembentukan kepengurusan dan siapa saja nanti yang akan duduk dalam kepengurusan tersebut," tambah Ayib Abbas.Dalam pertemuan tersebut selain Gus Dur, hadir KH Abdullah Abbas sekaligus tuan rumah (Buntet Cirebon), KH Sonhaji (Kebumen), Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung), KH Ubaidillah Faqih, putera KH Abdullah Faqih (Langitan), Tuan Guru Haji Turmudzi Badaruddin (Lombok), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Hamdan Khalid (Martapura), KH Abdurrahman Khudori (Magelang), KH Sodiq (Lampung), Gus Zaim Maksum (Lasem), Muchtar Muda Nasution (Medan), Hamdam Cholid (Banjarmasin),Ahmad Sofyan Miftah (Situbondo), Abdul Wahab (Ambon), Ahmad Basyir Abdullah (Sumenep) dan lain-lain.
(jon/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































