Namun ibunda anak-anak, Sirum (44), menyerahkan tawaran ini kepada dua putrinya itu. Ia tak akan memaksa karena mendiang suaminya juga tak pernah memaksa anak-anak mereka.
"Terserah anak-anaknya, kalau nggak mau toh nggak dipaksa juga, almarhum juga nggak pernah keras sama anak-anaknya," kata Sirum di rumah duka, Bekasi Utara, Jawa Barat, Kamis (6/3/2014).
Duka mendalam juga masih terasa di rumah duka. Raut kesedihan terlihat di wajah Sirum. Ia tampak letih menerima belasungkawa dari kerabat dan keluarga Serka Imam.
"Orang bertanggung jawab, dia menjaga solidaritas dengan teman-temannya, di rumah kalau lagi kerja anak-anak tanggung jawab saya, namanya bapak yang nyari nafkah ya jalani saja," tutur Sirum.
Setelah kehilang tulang punggung keluarga, Sirum berencana mempertahan kan hari-harinya dengan mengandalkan pensiun. Ia juga membuka toko kelontong kecil-kecilan.
"Paling berharap dari uang pensiun, lagian sehari-hari saya dagang juga yang penting bisa cari duit yang halal buat anak-anak," ujar Sirum.
Setelah panjang lebar mengisahkan sosok suaminya yang selalu memperhatikan keluarga, Sirum meminta waktu untuk istirahat. Keletihan di raut wajahnya tak bisa disembunyikan.
"Ya saya minta maaf banget karena tidak bisa banyak cerita. Kita juga takut salah bicara, saya juga sudah letih dari semalem belum bisa istirahat," ujar Sirum.
Serka Imam meninggalkan istri beserta tiga orang anak. Imam satu-satunya korban tewas dari peristiwa ledakan gudang amunisi milik Kopaska di Ko Armabar Lantamal III.
(edo/vid)











































