Serda Amir, anggota perawatan amunisi TNI AL, menceritakan pengalaman terakhirnya bersama Imam. Dia setiap hari selalu bertemu di markas Pondok Dayung, Jakut.
"Almarhum baik sekali, terkadang ia ngasih saran ke anak-anak, dia selalu jadi tempat curhat anak-anak. Biasa anak-anak kalau nggak berani ngomong sama atasan, cerita sama beliau nanti beliau yang sampein, seperti mau izin tidak masuk," kata Amir saat ditemui di rumah duka Serka Imam di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/3/2014).
Amir mengaku cukup dekat dengan Imam. Sambil terisak, dia menyebut Imam juga sebagai sosok pekerja keras.
"Semua pekerjaan selalu dihandle sama dia. Ada apa-apa dia lakuin sendiri, bisa merangkul anak-anak bengkel lain," tambahnya.
Mayor Laut (Teknik) Zaekan sebagai kepala bengkel bangunan kapal mengatakan, Imam adalah orang yang tak mengenal lelah. Kadang dia lebih mengutamakan pekerjaan dinas daripada keluarga dan urusan pribadi.
"Dia terbuka, humoris, ketika ada masalah dia pernah hiraukan walaupun saya tahu sebenarnya banyak masalah yang dialami tetapi dia datang dengan semangat kerja tinggi," kenangnya.
Mendengar kabar Imam meninggal, Zaekan pun sedih. Dia tidak pernah menyangka Imam bisa pergi begitu cepat.
"Waktu itu saya pernah dapat tugas bersama almarhum, sampai-sampai tidak pulang 3 hari 3 malam untuk membangun jembatan kapal pintar untuk Ibu Ani. Saya lihat dia orangnya dapat dijadikan contoh buat anak-anak bengkel lainnya," jelasnya.
(mad/mad)











































