Debat Capres PD, Pramono Edhie: Jadikan Hukum Panglima!

Debat Capres PD, Pramono Edhie: Jadikan Hukum Panglima!

- detikNews
Rabu, 05 Mar 2014 17:15 WIB
Debat Capres PD, Pramono Edhie: Jadikan Hukum Panglima!
Jakarta - Komite Konvensi Capres PD kembali menggelar debat capres, kali ini bertempat di Hotel Clarion Makassar. Tema debat bernegara kali ini adalah persoalan ekonomi dan hukum.

Pertanyaan pertama dari moderator mengenai kebijakan apa yang akan diambil terkait hak asasi manusia, korupsi, terorisme, hukum, narkotika dan obat terlarang. Peserta konvensi capres PD Pramono Edhie Wibowo menyatakan bahwa masalah terkait kelima hal tersebut bisa ditanggulangi jika hukum dijunjung tinggi.

"Hukum harus adil, kepastian hukum harus diwujudkan. Hukum adalah Panglima," jelas Edhie yang juga adik ipar Ketua Umum PD SBY ini.

Bagi Mas Edhie, hukum hukum tidak boleh pandang bulu. "Siapa yang benar, harus dibela. Siapa yang salah, harus dihukum," tegas Edhie.

"Masalah HAM, terorisme, korupsi, hukum, dan narkoba bisa menjadi minimal kalau hukum ditegakan," simpul mantan KSAD ini.

Menjawab pertanyaan terkait cara memajukan pembangunan di wilayah Indonesia yang masih tertinggal, Edhie mencontohkan pelannya pembangunan di Indonesia bagian timur. "Dengan potensi alam yang Sulawesi miliki, seharusnya Sulawesi memiliki hak kepabeanan, yang memungkinkan Sulawesi melakukan ekspor langsung atas hasil alam dan produk-produknya tanpa harus melalui pelabuhan Surabaya dan menyejahterakan warga Indonesia bagian timur," jelas Edhie.

"Oleh karenanya saya akan bangun pelabuhan laut internasional di Indonesia bagian timur, misalnya di Makassar," lanjutnya.

Mengenai upaya pemberantasan korupsi jika ia jadi Presiden Indonesia, Edhie menyatakan bahwa pencegahan dan hukuman yang seberat-beratnya harus diberikan kepada koruptor dan melibatkan rakyat Indonesia.

"Sistem sudah cukup lengkap, pemimpin harus memberikan contoh dengan menjalankan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pilih pejabat yang bersih, pelajari rekam jejaknya. Jika dianggap tidak populis dalam mengambil keputusan terkait koruptor tidak masalah bagi saya. Kepentingan rakyat dan negara selalu menjadi pilihan saya," tegas Edhie.

Pada akhirnya Edhie menyatakan bahwa seorang pemimpin harus berani menghadapi risiko. "Hakekat seorang pemimpin adalah sesorang yang memimpin dengan berani mengambil risiko, harus berani. Kalau dia tidak berani, bukan pemimpin namanya," tutup Edhie.



(van/nrl)


Berita Terkait