"Kita semua bisa menilai ya siapa yang layak, dan kalau kita lihat sih memang tidak mudah ya. Ada kelemahan. Kita terus terang saja, boleh jadi tidak ada yang kita pilih kalau memang keadaannya begini," kata anggota tim pakar Musni Umar di Gedung DPR, Senayan, Jakpus, Selasa (4/3/2014).
Musni menuturkan bahwa tim pakar sangat memperhatikan kredibilitas, kompetensi, dan rekam jejak dari para calon. Bila kemudian seleksi ini tak mendapatkan hakim MK terpilih, tak menutup kemungkinan anggota tim pakar akan diminta untuk maju.
"Boleh jadi, mungkin kalau ada tim pakar yang hebat, kita suruh dia maju. Tapi dia tidak usah menjadi tim pakar. Jadi begitu, jangan karena seolah-olah ini sudah harus kita milih," ujar Musni yang juga seorang sosiolog ini.
Para calon hakim MK, bagi Musni, masih lemah dalam hal penguasaan materi. Rekam jejak calon hakim MK juga menjadi bahan pertimbangan. Ia menyinggung munculnya tulisan akun anonim yang menuduh calon hakim MK Aswanto melakukan nepotisme.
"Kalau seorang negarawan itu pemimpin, di manapun ada dia akan dicintai orang. Tidak mungkin ada surat kaleng kan? Karena kalau dia bisa memimpin dengan baik, kalau dia mengayomi semuanya, tapi nyatanya kan tidak seperti itu kan," ucap Musni.
(vid/vid)










































