Dalam kuliahnya, Irman memaparkan kesenjangan pembangunan di kawasan timur Indonesia. Pembangunan terpusat di Jawa dan Sumatera sebesar 80 persen dari total keseluruhan anggaran pembangunan. Selain itu salah satu peserta konvensi Partai Demokrat ini juga menyinggung ketimpangan pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang hanya sebesar US 4.900. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan negeri tetangga Malaysia yang besarnya USD 16.000 per tahun.
"Indonesia adalah negeri kaya, secara makro ekonominya peringkat ke-16 dunia atau ketiga di Asia di bawah Cina dan India, tapi mengapa masih ada kesenjangan, saya percaya tidak ada negara miskin, yang ada hanya ada negara salah urus," ujar Irman.
Irman juga mengkritik sentralisasi sektor-sektor vital di pulau Jawa, seperti penempatan BUMN-BUMN, perbankan dan sarana pendidikan. Irman berjanji jika terpilih sebagai presiden, pria kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 52 tahun silam ini, berencana akan memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Kalimantan.
Sementara Rektor Unhas Idrus Paturusi meminta mahasiswanya tidak golput dalam Pemilu mendatang. Idrus memperkenalkan sosok Irman sebagai putra dari daerah yang berhasil mengorbitkan namanya sebagai tokoh nasional di usia yang masih muda.
"Pak Irman itu seperti buah yang tidak terlalu masak atau tidak terlalu mentah, pas matangnya jadi enak dimakan. Trackrecord-nya cemerlang, kualitas nyata bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin," ujar rektor Unhas dua periode ini.
(mna/try)











































