Karena tidak percaya diri, kata bekas politikus PDI Perjuangan ini, para caleg itu meminta bantuan doa kepada para leluhur agar bisa dimudahkan urusannya. “Sebenarnya enggak jadi masalah. Wong aku juga masih ke makam-makam. Cuma itu harus benar pola pikir pengertiannya,” kata Permadi kepada detikcom, Senin(03/03/2014).
Permadi menekankan kalau ingin menjadi anggota legislatif harus ikhlas. Sementara, selama ini sebagian besar caleg dinilai berbondong-bondong ke makam keramat hanya untuk kepentingan sementara.
“Itu harus ikhlas. Kalau cuma ikut-ikutan ya jangan. Udah habisin duit banyak, utang banyak, percaya terlalu jauh sampai berdoa ke makam terus enggak kepilih, lama-lama (rumah sakit jiwa) Grogol tambah penuh,” ujar pria berusia 73 tahun ini.

Menurut Permadi, sebenarnya caleg cukup minta doakan lewat juru kunci dan tidak perlu berlebihan mengartikan kunjungan ke makam. “Sebenarnya gampang saja. Kasih 100 ribu ke juru kunci makam, terus minta doakan. Ya, ini kan yang jadi anggapan caleg seperti salah kaprah karena terlalu berlebihan percayanya terus-terusan,” katanya.
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto mengatakan caleg yang melakukan ziarah kubur patut dipertanyakan mental pejuangnya.
Gun Gun menegaskan kalau motifnya ziarah ke kubur dalam konteks pencalegan dan si caleg betul–betul meminta sesuatu ke orang yang sudah wafat, maka hal itu jelas keliru. "Sebab meminta kan bisa langsung kepada Tuhan, kalau dia ingin minta ke kubur, maka patut dipertanyakan mental pejuangnya,” kata dia kepada detikcom, Senin (03/03/2014).
Gun Gun menekankan proses politik termasuk pencalegan adalah rasional sehingga beragam cara yang berkaitan dengan urusan pencalegan sudah seharusnya mengutamakan rasionalitas.
(brn/brn)











































