Namun, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur itu tidak membantah soal meningkatnya rutinitas menyambangi makam keramat yang dilakukan para caleg.
Dia pun menyebut ada beberapa orang di partainya dan luar partai yang sering melakukan aktivitas ini. Dalam waktu tertentu, menurutnya orang-orang ini punya kebiasaan berkunjung ke makam keramat.
Dua makam keramat di Jawa Timur yang kebanjiran pengunjung antara lain, makam Tambak Ngadi Kediri dan Joko Semput di Surabaya. Bahkan menurut Goldy ada rombongan caleg dari satu partai yang sengaja berbarengan ziarah ke makam tersebut.

“Ada mereka itu. Pas malam satu suro atau pas hari lahir mereka lahir pasti ke sana minta doa. Nah, sekarang menjelang pemilu semakin sering. Mungkin sebulan bisa dua kali,” kata Goldy kepada detikcom Minggu (2/3) lalu.
Menurut Goldy, aktivitas caleg ziarah ke makam keramat sudah melekat di kalangan politisi menjelang Pemilu. Selama sepuluh tahun lebih terjun di politik, dia melihat kecenderungan aksi ini memang selalu meningkat jelang Pemilu Legislatif ataupun Pilkada.
Kepercayaan diri yang lemah dan sudah terlanjur menghabiskan biaya banyak membuat pola pikir orang tidak lagi rasional. Tradisi kebudayaan leluhur pun berubah menjadi negatif hanya karena mencari kepentingan pribadi.
“Kalau menurut saya ya salah dan sudah enggak benar ya. Ngapain percaya dan berdoa ke makam keramat supaya menang di Pemilu,” kata pria berusia 49 tahun itu.
Meski terdaftar sebagai caleg DPRD Jawa Timur VI yang mencakup Blitar, Kediri, dan Tulungagung, Goldy mengaku tidak pernah sekalipun ikut-ikutan berkunjung ke makam keramat untuk berdoa.
Paling hanya berkunjung ke Makam Bung Karno di Blitar. Itupun menurutnya dilakukan bersama putra putrinya. “Ya, itu saja sama keluarga saya. Sekalian ajarin anak saya biar tahu makam pahlawan,” katanya.
Sementara calon legislator dari Partai Hanura, Haridt Rahman Hakim (37 tahun) mengakui munculnya gejala yang keliru di kalangan politisi. Setelah habis-habisan mengeluarkan biaya untuk kampanye, mereka terkesan nekat berbuat apapun agar bisa meraih kursi yang diinginkan.
“Ya ini kan tergantung lagi. Cuma yang perlu dilurusin kan jangan terlalu percaya gituan. Takut bisa gila,” ujar kata mantan aktivis 1998 yang biasa dipanggil Rahman itu kepada detik.com Senin, (3/3).
(hat/erd)











































