"Contohnya bus TransJ yang dinyatakan terbakar di HI itu tidak terbakar," kata Kepala UP TransJakarta, Pargaulan Butar-Butar, kepada detikcom, Selasa (4/3/2014).
Pargaulan mengatakan, di bagian mesin terdapat alat pemadam yang bekerja kalau mesin terlalu panas. Alat pemadam ini langsung pecah dan melindungi mesin dari panas belebih. Hal ini yang menyebabkan asap keluar dari mesin itu.
"Ini ada dua jenis pemicu yang bisa mengaktifkan pemadam itu, yaitu panas berlebih di mesin dan percikan api. Kalau alat ini bekerja biasanya asapnya berwarna putih," katanya.
Pargaulan menyatakan, alat pemadam ini sudah dipasang di bus-bus baru keluaran 2012. Hal ini untuk melindungi mesin dari kebakaran. "Ini yang salah dipahami masyarakat dan langsung menyimpulkan asap dari mesin bus itu berarti kebakaran," katanya.
Saat ditanya mengenai apa yang menyebabkan mesih TransJ tersebut panas, Pargaulan menyatakan hal ini tidak hanya terjadi hanya satu faktor saja. "Faktornya banyak bisa perawatan, masalah jalan rusak dan juga hal-hal lainnya," katanya.
Pargaulan mengakui banyak TransJ yang sudah tua sehingga rawan mogok. Menurutnya bus-bus di Koridor II dan III usianya sudah 8 tahun lebih. Lalu di kordidor IV dan VI usianya sudah 7 tahun.
"Jadi memang sudah cukup tua," katanya.
Pargaulan mengatakan total bus TransJ lama ada 579 buah. Jumlah ini tidak termasuk 90 bus baru yang datang pada Januari 2014 lalu. Dari jumlah ini yang masih bisa beroperasi di bawah 400 buah.
"Jadi jumlahnya masih sangat kurang. Padahal Jakarta butuh 1.289 bus TransJ gandeng idealnya," katanya.
(nal/mad)











































