"Sepuluh tahun saya menghabiskan waktu dalam manajemen universitas. Saya harus akui memang saya tidak produktif. Namun soal kerja, saya dinilai dapat bekerja dengan baik. Ini bukan alasan saja, tapi inilah yang menghabiskan energi saya," tutur Toet di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/3/2014).
Toet merupakan Rektor Universitas Pancasila yang bekerja sebagai dosen di Universitas Indonesia. Toet mengemukakan hal tersebut saat salah seorang tim pakar, Husni Umar, mengeluhkan makalahnya yang tak memakai kaidah sistematika ilmiah.
"Di makalah anda tidak jelas apa permaslahan yang dikemukakan. Harusnya dalam makalah itu ada pendahuluan, permasalahan, dan kesimpulannya. Ini tidak ada," keluh Husni.
Ketika para anggota tim pakar bertanya masalah substansial yang berkaitan dengan hukum dan Pancasila, Edie justru menjawabnya dengan penjelasan yang bikin tim pakar sedikit tersenyum dan menunjukkan ketidakpuasan.
Saat Husni menanyai soal foto-fotonya bersama tokoh-tokoh besar, bukan masyarakat kecil. Edie mengaku yang memasang foto di makalah itu adalah staf humasnya. Edie lantas bercerita pengalamannya memajukan salah satu 'Desa Pancasila'.
"Di Tulung Agung itu kerupuknya enak sekali. Sedap sekali," tuturnya menceritakan kesuksesan memajukan usaha rakyat.
Giliran Profesor Ahmad Syarifudin Natabaya bertanya. Dirinya, menguji dengan pertanyaan.
"Mana yang lebih dulu, separation of power atau distribution of power?" tanya Natabaya.
"Distribution of power," jawab Edie dengan mantab.
"Ah, gimana (sambil menggetok meja dengan tak terlalu kencang). Lebih dulu separation of power dong. Baca buku Hans Kelsen dulu," timpal Natabaya dengan tak puas.
Edie sempat terbatuk-batuk saat dicecar tim pakar. Dirinya mengaku sedang masuk angin selama tiga hari terakhir.
"Minum dulu pak," kata salah seorang anggota Komisi III setelah melihat Edie terbatuk-batuk.
(dnu/ahy)











































