Tigor, begitu biasa dia dipanggil, mengaku lebih senang kampanye dengan turun dan menjaring warga relawan di daerah pemilihan daripada memasang stiker di Metromini. Alasannya pemasangan stiker di angkutan umum kurang efektif, karena tidak mendukung pemeliharaan lingkungan.
Selain dilihat kurang enak, penempelan stiker ini juga tidak bagus buat kenyamanan dan keamanan penumpang. Seharusnya, dia menilai ada ketegasan dari pihak Panitia Pengawas Pemilu serta Dinas Perhubungan DKI untuk langsung mencopot stiker kampanye di angkutan umum yang terlalu banyak.

“Lebih baik enggak bawa apa-apa dan enggak kotor. Kalau saya lebih baik turun ke dapil dan bangun jaring relawan di warga,” kata pria kelahiran Medan, 9 Februari 1965 itu kepada detikcom Jumat (28/2).
Camel Panduwinata Lubis memiliki pandangan yang sama dengan Tigor. Calon legislator dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini mengaku tidak tertarik memakai cara kampanye dengan menempel stiker di angkutan umum.
Apalagi sebagai entertain, caleg seksi ini mengaku sudah dikenal publik lewat media massa. Pedangdut kelahiran Medan, 27 Oktober 1985 ini memilih cara kampanye dengan mengubah tampilan mobil Nissan Xtrail miliknya berwarna merah sesuai identitas partainya, PKPI.
Dengan biaya lebih Rp 5 juta, Camel mengubah tampilan mobilnya lebih mencolok. Gambar dia bersama mantan Gubernur DKI sekaligus pendiri PKPI, Sutiyoso terpampang jelas dengan slogan Berani Untuk Indonesia.
“Kalau aku pakai cara tempel siker di angkutan, kasihan caleg lain. Masak semuanya aku lakuin mulai tempel stiker, pasang spanduk, banyak berita di televisi, media cetak dan online. Enggak lah, bagi-bagi jatahnya,” ujar Camel kepada detikcom Sabtu (1/3) lalu.
Dia berpendapat penempelan stiker di angkutan umum sebenarnya cukup efektif untuk menarik perhatian publik. Dengan angkutan umum yang melewati daerah pemilihannya hampir setiap hari membuat publik mengetahui dan mengenal meski tidak secara langsung.
Selain selalu mengingatkan publik terhadap sosok caleg, cara ini saling menguntungkan antara dua pihak yaitu caleg dan sopir atau pemilik angkutan umum. Menurutnya, pasti ada kesepakatan antara pemilik angkut dengan caleg terkait nominal harga dan jangka waktu penempelan stiker di angkutan umum.
Camel merupakan caleg DPR dari PKPI nomor urut tiga untuk daerah pemilihan DKI Jakarta II yang meliput Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri.
(hat/erd)











































