Ratusan anggota komunitas penggiat sejarah melakukan reka ulang peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949. Reka ulang ini bagian dari peringatan peristiwa sejarah 65 tahun lalu.
SO 1 Maret 1949 merupakan peristiwa bersejarah ketika Kota Yogyakarta diduduki Belanda pasca Agresi Militer II 18 Desember 1948. Setelah Agresi Militer II, Presiden dan Wakil Presiden, Bung Karno dan Bung Hatta ditangkap Belanda. Panglima Besar Jenderal Sudirman memilih perang gerilya bersama pasukan menyingkir ke luar Yogyakarta.
"SO 1 Maret 1949 adalah punya perlawan tentara Indonesia dan untuk membuktikan kepada dunia luar bila Indonesia masih ada," ungkap salah satu anggota Paguyuban Wehkreise III, Sudjono seusai upacara di Benteng Vredeburg, Sabtu (1/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu di Hotel Tugu di sebelah utara Stasiun Tugu, PBB yakni Komisi Tiga Negara (KTN) tengah melakukan perundingan perdamaian," katanya.
Eko mengatakan sebanyak 120 orang anggota komunitas penggiat sejarah ikut serta dalam acara itu. Selain komunitas Djokjakarta 1945 ada komunitas lain dari Yogyakarta, Babad Bandayudha dan luar Yogyakarta seperti Solo, Surabaya dan kota lain yang ikut bergabung.
"Semua mengenakan pakaian seragam dan perlengkapan militer jaman dulu," katanya.
Menurut dia, adegan perang dimulai dengan adanya ledakan dari kembang api. Dengan semangat berkobar, peserta seolah-olah melakukan perang. Berbagai senjata jaman dulu dibawa ratusan peserta. Para peserta yang mengenakan seragam tentara Indonesia jaman dulu berada di luar benteng. Sedangkan yang mengenakan seragam tentara Belanda di dalam benteng. Mereka mengenakan seragam loreng Belanda dan membawa bendera Belanda. Layaknya adegan perang betulan diperagakan, hanya saja tidak menggunakan peluru benaran. Meski ada peserta yang membawa senjata zaman dulu, namun peluru yang dikeluarkan hanya peluru hampa.
(bgs/mad)










































