Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio mengatakan para prajurit akan bertugas selama 8 bulan.
"Misi ini merupakan misi kedua kalinya yang diemban oleh KRI Frans Kaisiepo 368 setelah sebelumnya sukses menjalankan misi yang sama pada tahun 2010 lalu dan ini menjadi sebuah misi diplomasi TNI dalam menghadirkan kekuatanya di berbagai daerah," kata Marsetio di Kolinlamil, Jakarta Utara, Jumat (28/2/2014).
Prajurit TNI AL ini memiliki tugas utama melaksanakan pengamanan di area patroli Maritim Task Force (MTF). Tugas ini merupakan keputusan PBB yang tertuang dalam resolusi 1701 tahun 2006 guna mencegah timbulnya konflik bersenjata antara Libanon dan Israel.
"Jadi situasi ini merupakan gabungan dengan kekuatan asing, terdiri dari 6 sampai 8 kapal di wilayah Maritim Task Force, kapal perang di sana merupakan kapal-kapal dari negara-negara Nato dan European Union," jelasnya.
Marsiteo berpendapat tugas ini merupakan tugas mulia dalam misi diplomasi.
"Semua tugas bisa kita laksanakan. Jadi dalam daerah operasi, kita akan melakukan ketentuan yang telah ditentukan PBB," ujarnya.
Marsetio menjelaskan, dalam mengemban misi perdamaian KRI Frans Kasiepo 368 dikomandani oleh Letkol Laut Ade Nanno Suwardi.
"Dari 100 prajurit, 88 prajurit merupakan awak kapal perang, tujuh prajurit pilot dan kru helikopter, serta perwira kesehatan, satuan komando pasukan katak, penyelam, perwira intelijen, dan perwira penerangan," paparnya.
(tfn/aan)











































