Asal Ada Uang, Gelar Gampang Disandang

Praktik Jual Beli Gelar

Asal Ada Uang, Gelar Gampang Disandang

- detikNews
Jumat, 28 Feb 2014 11:03 WIB
Asal Ada Uang, Gelar Gampang Disandang
Foto Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Enam bulan lalu, perhatian tim penyidik Badan Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Metro Jaya tertuju pada salah satu iklan di internet. Iklan tersebut menjanjikan bisa membuatkan ijazah, mulai dari tingkat sekolah dasar, sampai sertifikat gelar doktor.

“Dia jual ijazah palsu dari SD, SMP, SMA sampai doctor, dari dalam bahkan sampai luar negeri juga ada,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto kepada detikcom, Kamis (27/2) kemarin.

Penyidik pun disebar untuk melacak identitas pengiklan. Tak perlu waktu lama, karena memang dalam iklan tersebut dicantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Pelakunya pun bisa tertangkap berikut sejumlah barang buktinya.

“Mereka mencetak, men-cap dan mengiklankan berbagai macam ijazah yang ada, persis seperti aslinya. Siapapun boleh pesan, mau dari (sekolah dan universitas) mana pun, dari Singapura bisa, bahkan dari perguruan tinggi ternama juga ada,” papar Rikwanto.
 

 
Meski wujud ijazah palsu tersebut mirip dengan aslinya, namun Rikwanto memastikan bahwa, praktik tersebut tidak melibatkan pihak dalam universitas. “Jadi kerjanya ‘gelap-gelapan saja, tidak melibatkan universitas,” kata dia.

Menurut Rikwanto pelaku pemalsuan ijazah dijerat dengan pasal 263 KUHP, dan juga Undang-undang ITE. Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara. Kepolisin terus mengembangkan kasus ini dengan sedang menelusuri pelaku lain yang aktif membuka iklan di internet.

Sementara untuk penjual ijazah asli tapi palsu melalui lewat calo, menurut Rikwanto kepolisian belum bisa mengungkap. Sebab, untuk kasus ini, polisi baru bisa menelusuri jika ada masyarakat yang melapor.

“Biasanya laporan dari user, pengguna ya, misalnya ketika melamar kerja, ada yang jeli mengecek keabsahan ijazahnya, di situ baru ketahuan,” kata dia.

Hingga kini menurut Rikwanto, pihaknya belum menerima adanya laporan adanya ijazah palsu khususnya terkait politisi menjelang pemilihan umum 2014. “Itu kan Cuma isu supaya menjatuhkan citra. Kalau mereka benar menyatakan si A itu ijazah palsu, harus dilaporkan dengan bukti yang ada,” kata Rikwanto.

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad mengakui adanya praktik jual beli ijazah. Dia pun mengingatkan kepada kepala sekolah dan pengelola lembaga pendidikan tinggi untuk waspada, khususnya terkait kerahasiaan arsip.

“Itu (pemalsuan ijazah) bisa terjadi karena ada kelengahan dalam mengelola arsip,” kata Ibnu kepada detikcom, kemarin.

Dari penelusuran detikcom, iklan jual beli ijazah palsu mudah ditemui di internet. Bahkan dalam iklan tersebut dicantumkan besaran tarifnya. Misalnya untuk gelar sarjana strata satu rata-rata biayanya Rp 15 juta, S-2 sebesar Rp 25 – Rp 35 juta, dan S-3 sekitar Rp 55 – Rp 60 juta.

Seorang calo ijazah palsu yang ditemui detikcom di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta membenarkan besaran tarif tersebut. “Bisa diurus semuanya. Yang penting ikutin cara kami saja. Ini kan kepercayaan ya. Kami juga enggak main-main,” kata pria yang tak mau disebut namanya itu.

Pria berusia 29 tahun adalah seorang mahasiswa sekaligus asisten dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Dengan status itu dia menjamin ijazah yang diurus timnya bakal diakui di dunia pekerjaan, karena asli dan ada nomornya. Asal ada uang sesuai kesepakatan, ijazah dengan gelar apapun bisa didapat.


(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads