"Saya habis dari Citayam telepon Daniel, itu udah lama nggak ketemu sama Daniel, udah 2 tahun. Saya bilang 'Nil, gue mau ketemu lu, berdua aja'," ujar Ido kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (27/2/2014).
Setelah Daniel menyetujui, Ido kemudian menjemput Daniel di Pondok Gede. Saat itu, Ido kemudian bercerita kepada Daniel bahwa dia habis menabrak seorang perempuan.
"Dia lalu nanya 'terus mayatnya dimana?' Saya bilang di bagasi. Terus kata dia 'ah gila lu'," tuturnya.
Mendapat cerita bahwa Ido habis menabrak orang hingga mati, Daniel kemudian mengajak Ido untuk melapor ke polisi. Namun Ido menolak saran Daniel dan bersikeras untuk membuang mayat Feby.
"Ya saya sempat menangis memohon sama Daniel untuk tidak melapor ke polisi saat itu karena saya takut," ujarnya
Selanjutnya Ido menunjukkan mayat Feby yang berada di dalam bagasi mobil Nissan March F 1356 KA milik Feby. Saat itulah, timbul pemikiran Ido untuk membuang mayat Feby. Ia kemudian mengajak Daniel untuk membuang mayat tersebut.
"Dari Pondok Gede mutar-mutar nyari tempat untuk membuang mayat. Daniel mengikuti dari belakang naik motor," terangnya.
Setelah beberapa jam berputar-putar, akhirnya mereka tiba di depan TPU Pondok Kelapa, Jl Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Akhirnya, Ido berhenti di depan TPU Pondok Kelapa dan membiarkan mayat Feby di dalam bagasi mobil tersebut.
"Lalu saya dibonceng Daniel sambil bawa accu mobil Nissan," tutupnya seraya mengatakan bahwa accu tersebut hendak dipasang ke mobil Daihatsu Xenia milik kakaknya.
(mei/bil)











































