Kemarau 2014 Lebih Kering, Ini Bencana yang Harus Diwaspadai

Kemarau 2014 Lebih Kering, Ini Bencana yang Harus Diwaspadai

Khaerur Reza - detikNews
Rabu, 26 Feb 2014 15:20 WIB
Kemarau 2014 Lebih Kering, Ini Bencana yang Harus Diwaspadai
Foto: Reza/detikcom
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi musim kemarau tahun ini lebih kering dari tahun 2013. Ada sejumlah bencana yang harus diwaspadai di akhir musim hujan, peralihan maupun kemarau.

"Berdasarkan prediksi hujan dan cuaca dari BMKG bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dari tahun 2013 karena adanya indikasi El Nino yang lemah. Kewaspadaan masih harus ditingkatkan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo mengatakan itu dalam jumpa pers tentang update penanganan bencana 2014 tentang erupsi Gunung Sinabung dan Gunung Kelud di kantor BNPB, Jl Djuanda, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2014).

Beberapa prediksi bencana yang perlu diwaspadai adalah pertama, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor hingga Maret 2014. Namun khusus Maluku dan Malut berpotensi banjir dan longsor hingga Juni-Agustus 2014 karena puncak curah hujan di daerah itu berada di waktu tersebut.

Kedua, puting beliung yang terjadi pada musim peralihan yakni Maret-April 2014.

Ketiga, kabut asap di 9 provinsi yakni Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim dan Kalimatan Utara. Kebakaran asap berpotensi terjadi April-November 2014 dan puncaknya pada September dan Oktober 2014.

Kabut asap sudah terjadi di Riau dan Kalbar. Berdasarkan pantauan satelit pada 25 Februari 2014 kemarin, ada 13 titik api di Kalbar dan 5 titik api di Riau serta masing-masing 1 titik api di Aceh, Riau Kepulauan, Jambi, dan Kalteng.

BNPB telah menyiapkan 2 operasi yakni darat dan udara. Operasi darat yakni dengan menggandeng TNI, Pemda dan Pemprov terkait. Sedangkan operasi udara BNPB akan melakukan pemboman air.

Keempat, kekeringan yang berpotensi terjadi pada Juni-November 2014 di Jawa, Bali, NTT dan daerah-daerah yang biasanya defisit air.

"Sebagai antisipasi kita akan melakukan penurunan tangki air dan juga hujan buatan," tutur Sutopo.

(nwy/nrl)


Berita Terkait