Kisah kehidupan sang kakek, Kho Bak Tjoa, yang turut mengangkat senjata mengusir kolonial Belanda di Jambi, rupanya banyak mengusik benak Hendra Kho. Apalagi sang kakek, yang meraih Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno, kerap menyatakan darma paling mulia dari seseorang adalah ketika memberikan yang terbaik kepada orang banyak. Untuk negara dan bangsa. Pria kelahiran Jambi, 9 September 1982, itu pun menerjemahkannya dengan menjadi tentara. Korps infanteri adalah idamannya.
Selepas sekolah menengah atas, ia pun mendaftarkan diri mengikuti seleksi calon taruna Akademi Militer. Sayang, pada tahap akhir dia dinyatakan tak lulus. Kedua orang tuanya, Djoni Kho dan Tjoa Ngang Heng, membesarkan hati dengan menyarankan agar mengikuti tes pada tahun berikutnya. Tapi Hendra tak mau. Dia tak ingin makin frustrasi karena menjadi penganggur.
Untuk melupakan kegagalan itu, atas restu orang tuanya, Hendra hijrah ke Jakarta dan mendaftar ke Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Ketika titel sarjana hukum hampir digenggam, Hendra mengaku sempat berniat menjadi pebisnis. Tapi, sekelebat kemudian, cita-cita menjadi tentara kembali membuhul.
“Saya ingin membuktikan bahwa orang Tionghoa tidak hanya pandai berdagang,” kata suami Chang Jane ini saat berbincang dengan Majalah Detik melalui telepon seluler pada Rabu (29/1/2014) lalu.
Dengan sokongan ayah-ibunya, Hendra, yang telah bertitel sarjana hukum, mengikuti seleksi sekolah perwira prajurit karier. Kali ini ia dinyatakan diterima dan lulus dengan pangkat letnan dua TNI Angkatan Udara pada Juli 2007. Dari 256 orang lulusan perwira, Hendra tercatat menduduki peringkat ke-32. Dari 72 siswa matra udara, dia berada di urutan ketujuh dari 10 siswa terbaik.
Selanjutnya, Hendra ditempatkan di Korps Pasukan Khas (Pasukan Komando) TNI Angkatan Udara. Hendra, yang kini menjabat Kepala Hukum Pusat Pendidikan dan Latihan Paskhas TNI AU di Bandung, mendapat anugerah tiga tanda jasa, yakni Dharma Nusa, Wira Dharma, serta Wira Nusa. Oktober tahun lalu, dia meraih pangkat kapten.
Hendra Kho adalah segelintir warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang mau menjadi anggota TNI dan berani mengungkapkannya ke publik. Selebihnya memilih menutup rapat jati diri dan kiprah mereka sebagai prajurit TNI-Polri. Padahal rata-rata mereka mencapai pangkat perwira menengah, bahkan jenderal.
Sebut saja Mayor Jenderal dr Daniel Tjen, SpS, yang kini menjabat Kepala Pusat Kesehatan TNI. Atau Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Teddy Yusuf, yang lama aktif sebagai perwira intelijen dan pernah menjadi anggota Fraksi ABRI (1995-1999).
Bahkan penelusuran Didi Kwartanada dari Yayasan Nation Building (Nabil) menemukan bahwa kiprah warga keturunan Tionghoa ada sejak sebelum perang kemerdekaan dan selama perjuangan merebut kemerdekaan. Buktinya, di taman-taman makam pahlawan di beberapa daerah, ada sejumlah makam yang menggunakan nama Tionghoa.
Ia antara lain merujuk makam Tentara Pelajar, Ferry Sie King Lien, di TMP Jurug, Surakarta. Ferry tewas saat angkat senjata melawan Belanda pada 1948-1949. Di Pemalang, Jawa Tengah, juga diketahui ada Laskar Pemuda Tionghoa dengan tokoh Tan Djiem Kwan, alumnus Sekolah Tionghoa Tegal. Juga terdapat orang-orang Tionghoa yang melibatkan diri dalam Batalion Macan Putih, satu kesatuan gerilya yang aktif di wilayah-wilayah sekitar lereng Gunung Muria (Tayu, Jepara, Kudus, Welahan).
“Orang Tionghoa di daerah-daerah tersebut mengumpulkan perhiasan empat-lima kali untuk dibelikan senjata di Singapura. Mereka juga menyediakan makanan yang dibungkus daun jati bagi para pejuang,” ujar Didi dalam artikel bertajuk “Sumbangsih Tionghoa di Masa Revolusi Kemerdekaan”, yang diterbitkan Nabil Forum edisi Juli 2011.
*) Isi dari artikel ini sudah dimuat dalam Majalah Detik Edisi 114 yang terbit 3 Februari 2014
(nwk/nrl)











































