Kapolsek Gayamsari, Kompol Juara Silalahi mengatakan penangkapan berdasarkan informasi yang mengatakan Agus tinggal di daerah Kampung Cilosari, kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Dan setelah dicek sekitar pukul 18.00 WIB hari Senin (24/2) kemarin, ternyata benar ia sedang berada di sana.
"Sekitar 10 orang petugas ke sana. Rumahnya masih lengang saat penangkapan," kata Juara saat melakukan razia di dekat Stadiun Citarum, Semarang, Selasa (24/2/2014) dini hari.
Namun pelaku yang memiliki tubuh tegap dan penuh tato itu tidak dengan mudah ditangkap. Ia sempat melawan petugas dan berusaha lari. Oleh sebab itu petugas terpaka menembak kaki kanan Agus. Yang mengagetkan petugas, Agus ternyata masih bisa berjalan seperti biasa walau kakinya sudah tertembus peluru.
"Saat penangkapan, dia melakukan perlawanan. Badannya kekar dan kuat, walau sudah ditembak masih bisa jalan biasa, tapi dia akhirnya menyerah," tandas Juara.
Agus kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk menjalani pengobatan. Usai dilakukan penanganan oleh tim medis, wajah Agus pun masih tegar dan tidak terlihat kesakitan. Saat ditanya wartawan, ia mengaku sudah 10 kali melakukan perampasan.
"Sudah 10 kali, di Pelabuhan, Jalan Arteri, Kaligawe, Jalan Dr.Cipto, dan daerah tambak. Biasanya dapat handphone sama uang," kata Agus.
"Saya bawa senjata tajam buat jaga-jaga. Tapi korban juga ada yang saya bacok. Saya kalau mau main minum dextro dulu biar mabuk," imbuhnya.
Hingga saat ini Agus masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Gayamsari, sementara itu petugas kepolisian masih melakukan pengembangan terkait penangkapan Agus. Diketahui Agus satu komplotan dengan tiga pemuda yang ditangkap di Mapolsek Pedurungan hari Sabtu (8/2) dini hari karena hendak memalak seorang wanita.
"Grupnya dari Pedurungan. Banyak dia TKP-nya, masih kami kembangkan," tegas Kapolsek Gayamsari.
(alg/trq)











































