550 Ton Ikan di Cirata Mati Mendadak, Petani Rugi Miliaran
Senin, 06 Des 2004 11:14 WIB
Jakarta -
Akibat perubahan cuaca (up weling), ratusan ton ikan Mas dan Nila milik petani ikan jaring terapung di Waduk Cirata, Cianjur mati mendadak. Petani merugi miliaran rupiah. Catatan dari warga setempat, ikan yang mati ditaksir sekitar 550 ton. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (4/12/2004) dini hari lalu. Saat itu, terjadi hujan lebat dan angin besar. Kejadian ini memang terjadi setiap tahun. Menurut salah seorang staf Dinas Perikanan Cianjur Erna Nurdiana, musibah ini menimpa 110 petani ikan jaring terapung di empat kampung, yaitu Kampung Bangbayang, Kebon Cokelat, Calingcing, dan Babakan Garut. "Daerah lainnya aman," kata Erna, yang saat dihubungi detikcom, Senin (6/12/2004) berada di lokasi. Sampai sekarang, akibat banyaknya ikan Mas dan Nila yang mati, bau busuk cukup menyengat di lokasi. Ini karena masih banyaknya bangkai ikan yang mati dan terapung di atas permukaan air. "Sampai sekarang, masih banyak bangkai ikan yang mengapung," ungkapnya. Akibat kejadian ini, petani ikan jaring terapung itu merugi miliaran rupiah. Ikan-ikan yang mati sekitar 75 persen adalah ikan Mas. Sisanya ikan Nila. Bila harga ikan Rp 7.800 per kg, maka kerugian ditaksir sekitar RP 4,3 miliar. Memang, para petani masih sempat menjual ikan-ikan yang masih pingsan. "Tapi, yang terjual ditaksir hanya 10 persen. Sisanya, dibuang," kata Erna. Secara ilmiah, Kematian ikan akibat up weling atau sering disebut turnover ini lebih sering terjadi karena pendinginan evaporatif (evaporative cooling) di permukaan air. Pendinginan evaporatif ini biasanya terjadi karena cuaca mendung/hujan dalam waktu cukup lama (2-3 hari). Pendinginan yang terjadi di permukaan air akan menyebabkan suhu air permukaan menjadi lebih dingin dibandingkan dengan suhu air pada lapisan-lapisan di bawahnya. Nah, air yang memiliki suhu lebih rendah akan memiliki berat jenis lebih besar dibandingkan dengan air yang suhunya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan air di permukaan turun ke lapisan bawah dan air dari lapisan di bawah terdorong menuju permukaan. Massa air dari lapisan bawah yang terdorong ke permukaan akan membawa material-material kimiawi yang berada dalam status reduksi (H2S, CO2, dan NH3), mengingat di lapisan air bagian bawah ketersediaan oksigen sangat rendah, atau bahkan tidak ada sama sekali. Material-material kimiawi dalam status reduksi ini pada umumnya bersifat toksik (racun) bagi ikan-ikan dan juga organisme air lainnya. Sehingga sesaat setelah terjadinya turnover ikan-ikan itu mengalami kematian massal.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































