RSSU yang didirikan sejak tahun 1991 memang tergolong sebagai kampus baru di Rusia. Namun demikian kampus ini telah menjalin 50 MoU kepada negara-negara di dunia.
"Kerjasama kami meliputi pertukaran pelajar dan pengajar serta penelitian bersama,β kata Rektor RSSU, Vasily Zhukov dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu(22/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada masa Uni Soviet tidak ada ahli-ahli ilmu sosial, ketika sistem komunis runtuh, universitas ini didirikan untuk mencetak ahli-ahli di berbagai bidang imu tersebut," katanya.
Terkait rencana pembukaan program kajian Indonesia tersebut, beberapa mahasiswa RSSU tengah mempelajari Bahasa Indonesia. Sebelumnya, ada lima universitas di Rusia yang sudah memiliki program kajian Indonesia yaitu Moscow State University of International Relations (MGIMO), Institute of Asian-African Studies (ISAA), St. Petersburg State University (SPbGU), Universitas Ketimuran Moskow, dan Far Eastern Federal University (DFGU) Vladivostok.
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia, Djauhari Oratmangun menyampaikan bahwa KBRI Moskow telah membuka kelas Bahasa Indonesia secara cuma-cuma kepada warga Rusia yang berminat. "Kami juga mengundang para mahasiswa RSSU yang tertarik untuk mengikutinya," katanya.
Kelas yang telah dibuka sejak akhir 2013 tersebut mendapatkan sambutan yang positif dengan diikuti warga dari segala kalangan termasuk mahasiswa, pebisnis dan juga dosen. Berbagai universitas di Indonesia sudah menyatakan ketertarikan untuk berkerjasama dengan universitas di Rusia.
"Saya akan segera menyampaikan tawaran kerjasama ini kepada berbagai universitas di Indonesia. Semoga kontak sudah dapat terjalin sebelum semester ini berakhir," tuturnya.
Djauhari mengatakan, universitas-univeritas di Rusia ini memiliki peran penting karena ilmu sosial sangat penting dalam mempersiapkan orang menghadapi berbagai perubahan global yang begitu cepat. Seperti halnya Rusia, Indonesia juga sempat mengalami reformasi di tahun 1998/1999.
Selain bertemu dengan rektor, Duta Besar memberikan kuliah umum di universitas tersebut. Dalam sesi tanya-jawab, timbul diskusi mengenai antara lain perekonomian, ASEAN dan Pemilu 2014. Menanggapi pertanyaan mengenai keanekaragaman agama di Indonesia, Duta Besar menjawab bahwa di Indonesia terdapat lima agama dengan pemeluk terbanyak.
"Walaupun pemeluk agama Islam sekitar 90%, Indonesia bukan negara Islam. Ini menunjukkan bahwa Indonesia dapat dicontoh sebagai negara dimana toleransi antar agama dijamin," ujarnya.
(kff/fdn)











































