"Tidak ada hubungannya dengan pencitraan," kata Risma saat menemui sejumlah Mahasiswa ITS di Lantai 2 Balai Kota Surabaya, Jumat (21/2/2014).
Lalu kenapa Risma terlihat mudah berurai air mata bila ditanya seputar isu tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risma menegaskan, baginya jabatan itu amanah yang sewaktu-waktu bisa hilang. Risma tidak pernah menangisi jabatannya.
"Kalau nanti sore Tuhan cabut nyawa saya, ya habis jabatan saya. Jadi buat apa pencitraan?," ujar Risma yang berhasil meraih puluhan penghargaan berskala nasional dan internasional.
Risma paham, tidak mudah untuk mengemban jabatan sebagai walikota. Namun sampai kapan pun dia akan tetap memegang teguh prinsip.
"Insya Allah. Bahwa memang tidak mudah. Saya coba bertahan, tapi saya punya prinsip. Prinsip saya, kalau saya tahu ada masalah, saya harus menyelesaikan masalah itu," pungkas Risma.
Hari ini dukungan supaya Risma tidak mengundurkan diri dari jabatan terus mengalir termasuk dari kalangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Puluhan mahasiswa ini bahkan melakukan long march dari kampus ITS ke Balai Kota Surabaya, Jalan Walikota Mustajab.
"Kami ingin Bu Risma terus bekerja sebagai wali kota," kata korlap aksi, Sudarsono, Jumat (21/2/2014).
Mereka mengatakan, Risma masih memiliki banyak pekerjaan sebagai pemimpin Kota Surabaya.
Pekerjaan yang dinilainya masih belum tuntas itu antara lain nasib Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan penutupan lokalisasi Dolly.
Mereka juga menyebut alat transportasi massal atau Mass Rapid Transport (MRT) pernah dijanjikan Risma akan kelar pada tahun 2015.
(nrm/fdn)











































