Kasudin Kesehatan Jakarta Barat, Widyastuti menjelaskan kasus penderita DBD terhitung sejak 1 Januari hingga 20 Februari 2014 di 8 kecamatan.
"Korban jiwa tidak ada. Yang jelas kami memfokuskan penanganan dan perawatan segera terhadap warga yang terindikasi terserang DBD," tutur Widyastuti ketika dihubungi, Jumat (21/2/2014).
Widyastuti mengatakan, ada 9 titik kelurahan di Jakarta Barat yang diprioritaskan dalam penanggulangan DBD. "Di Kecamatan Kalideres kita fokuskan di Kelurahan Tegal Alur, Pegadungan, Semanan. Lalu untuk kecamatan Cengkareng di Cengkareng Timur, Duri Kosambi, Kapuk. Dan untuk di Kecamatan Kembangan kita fokuskan di Kembangan Utara, Kembangan Selatan," sebutnya.
Adapun jumlah kasus DBD yang muncul pasca banjir pada tahun ini, kuantitasnya jauh lebih rendah dibandingkan pada tahun sebelumnya. Di tahun 2013 kemarin, terdapat total kasus DBD di wilayah Jakarta barat mencapai 315 kasus terhitung dari awal Januari hingga akhir Februari.
"Memang warga harus waspada. Sehabis banjir biasanya stamina warga kan menurun, nah pada masa itu nyamuk Aedes Aegypti sebagai perantara cenderung lebih mudah menyebarkan virus DBD lantaran stamina warga relatif menurun," ujarnya.
Widyastuti menambahkan, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat juga akan rutin melakukan kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) serta larvasidasi efektif. Kegiatan PSN biasanya dilakukan serentak setiap hari Jum'at.
"Tidak hanya melakukan aksi preventif saja, kami juga melakukan kegiatan promotif untuk mengajak warga lebih sadar memperhatikan lingkungan sekitar dari adanya sarang nyamuk aedes aegypti," imbuhnya.
(spt/fdn)











































