Hal itu merupakan hasil pantauan Tim Pusat Studi Bencana (PSBA), Universitas Gadjah Mada (UGM) terhadap kualitas udara di Yogyakarta pasca diguyur hujan abu Kelud beberapa waktu lalu.
Debu masih banyak, meski telah dilakukan pembersihan. Endapan debu di permukaan tanah dan jalanan, namun tingkat kadar debu di udara masih tinggi.
"Sampai saat ini masih banyak sisa-sisa material debu yang menempel di dedaunan, atap rumah dan dinding bangunan," kata peneliti PSBA UGM, Prof Dr Sudibyakto saat menyampaikan hasil pengujian kualitas udara pasca erupsi Kelud di UGM, Jumat (21/2/2014).
Dia mencontohkan di sekitar kampus UGM, Jl Kaliurang hingga simpang empat Ringroad Kentungan Sleman, konsentrasi debit debu vulkanik masih sangat tinggi jauh melebih ambang batas baku mutu. Diperkirakan mencapai tiga kali lipat konsentrasinya.
Menurutnya dia, di lingkungan UGM sendiri tingkat konsentrasi debu vulkanik mencapai 1.082 mikro gram/meter kubik. Batas baku mutu hanya 230 mikro gram/meter kubik.
Salah satu peyebabnya adalah masih tingginya endapan debu yang ada di pepohonan. Sementara jumlah karbon monoksida (CO), sulfur dioksia (SO2) dan nitrogen oksida (NO2) dalam kondisi normal.
"Sementara itu tempat lain seperti di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta, Balai kota dan kawasan Kotabaru juga hampir sama," katanya.
Akibat kadar debu vulkanik yang sangat tinggi lanjut dia, suhu udara di kota Yogyakarta meningkat tajam. Rata-rata suhu meningkat 4 hingga 6 derajat celcius. Bila rata-rata harian hanya berkisar 26-28 derajat celcius. Pasca hujan abu kelud suhu udara naik menjadi 32-36 derajat celcius.
Sementara itu Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Yogyakarta, Toni Agus Widjaya menambahkan pasca hujan abu kelud, wilayah Yogyakarta masih minim terjadi hujan. Padahal hujan merupakan salah satu cara untuk membersihkan material abu vulaknik.
Menurutnya, peluang DIY untuk mendapatkan hujan lebat sangat bergantung dari bibit badai tropis yang ada di daerah selatan Samudera Hindia. Empat titik bibit badai tropis di sekitar wilayah Samudera Hindia diharapkan mengubah pola curah hujan di DIY.
(bgk/rmd)











































