Giliran Banjir Lumpur Genangi 200 Rumah di Blitar
Senin, 06 Des 2004 09:02 WIB
Jakarta - Setelah banjir bandang melanda wilayah Blitar, kini banjir lumpur menghantui warga. Timbunan lumpur yang tingginya hingga mencapai satu meter melanda 200 rumah. Timbunan lumpur yang paling parah terdapat di dusun Sidorejo desa Tambak Rejo, Wonotirto, Blitar.Banjir lumpur melanda Blitar, sejak kawasan ini diterjang banjir sejak Jumat (3/12/2004) lalu. Akibat bencana ini sekitar 31 rumah hanyut dan 213 unit rumah rusak berat dan roboh. Sementara korban tewas akibat banjir hingga kini dilaporkan sebanyak 8 orang.Ketua Satkorlak Bilitar dan juga Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Pemda Blitar, Wiyono Raharjo saat dihubungi detikcom, melalui telepon di Blitar menyatakan, banjir lumpur itu sudah mencapi kondisi yang parah, dimana ketinggiannya sudah mencapai 0,5 sampai 1 meter," jelasnya.Kondisi lumpur yang sempat menimbun ratusan rumah dan jalan-jalan tersebut, sampai saat ini masih ditangani oleh tim kerja antara masyarakat dengan instansi-instansi lainnya. "Masyarakat bersama aparat serta PMI sudah melakukan kerja bakti, pembersihan di mulai dari rumah-rumah penduduk sampai jalan utama, saat ini kurang lebih sudah 30-40 persen lumpur sudah berhasil dibersihkan," urainya.Wiyono menambahkan kondisi beberapa fasilitas umum terparah diantaranya adalah jembatan di kecamatan Kademangan. "Pondasinya mengkhawatirkan, itu karena tergerus akibat hantaman air dan lumpur,".Sedangkan jembatan aspal, yang berukuran lebar 4 meter dan panjang 12 meter, dan menghubungkan desa Wonototirto dengan desa Ngeni terputus. "Pada tanggal 3 Desember lalu Bapak Bupati sudah menginstruksikan untuk membangun jembatan sementara" ujarnya. Selain itu, di kecamatan Sutojayan terdapat gedung sekolah yang tergenang air. "Wilayah yang terkena banjir bandang, seperti Kademangan, begitu selesai banjir langsung surut" tambah Wiyono. Namun kondisi terakhir kecamatan Sutojayan, saat ini ketinggian air masih kurang dari 1 meter. "Di Sutojayan, bila pintu air yang menghubungkan sungai Bogel ke sungai Brantas dibuka, maka kapasitas tampung akan melebihi tenaga listrik di PLTA Serut tersebut, akibatnya akan sangat membahayakan," tegasnya.
(mar/)











































