KPU Diskusikan Partisipasi Pemilih dengan KPU India dan Australia

KPU Diskusikan Partisipasi Pemilih dengan KPU India dan Australia

M Iqbal - detikNews
Jumat, 21 Feb 2014 13:40 WIB
KPU Diskusikan Partisipasi Pemilih dengan KPU India dan Australia
Jakarta - Masalah partisipasi pemilih menjadi masalah umum yang dihadapi semua penyelenggara pemilu di tiap negara. Perludem bersama Australian Aid mendiskusikan hal tersebut untuk masukan Pemilu 2014.

Diskusi bertema 'Increasing People Participation in the 2014 Election' itu digelar di Four Season Hotel, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel, Jumat (21/2/2014).

Hadir ketua KPU Husni Kamil Manik, Director General Systematic Voters Education and Electoral Participation (SVEPP/Program KPU India-red) Akshay Rout, dan dari The Australian Electoral Commission (AEC) Cate Thompson.

Dalam pemaparannya, Akshay Rout menuturkan tentang partisipasi pemilih bagi 800 juta pemilih di India yang tersebar di 35 provinsi. Masalah terbesar pernah dihadapi India adalah saat partisipasi pemilih turun sebesar 60% tahun 2009.

Maka KPU di India menggagas strategi salahsatunya yang disebut IMF atau Information, Motivation, Facilitation untuk hadapi masalah terkait gap diantara pemilih.

AEC atau KPU Australia punya cara yang lebih moderat atau menarik untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Beberapa program sosialisasi didasari pada pentingnya memilih bagi warga Austrlia.

Di antara program yang dijelaskan Thomspon adalah 'Our Vote Our Future', kampanye dengan tagline 'Count Me In', 'Get Voting' dan tak kalah menarik adalah tagline 'Rock Enrol' untuk kaum muda Australia.

Sementara ketua KPU Husni Kamil Manik menuturkan tentang target partisipasi pemilih yang ingin dicapai sebesar 75% pada Pemilu 2014. Husni mengatakan, golput memang menjadi ancaman bagi partisipasi.

"KPU prinsipnya memotivasi masyarakat menggunakan hak pilihnya, posisi KPU persuasif bukan mengancam (jika tidak memilih)," kata Husni.

Berbagai faktor golput pun disampaikan dengan pendekatan beberapa teori, tapi menurut Husni semua itu telah coba diupayakan KPU baik yang terkait DPT, domisili, dan kurangnya sosialisasi.

"Makin dekat Pemilu, KPU semakin dekat dengan masyarakat dan konsennya di sana. Kalau jauh hari diberitahu mereka tak terlalu merasa penting," ucapnya.

(bal/van)


Berita Terkait