Di gerbang yang mirip pintu penjara itu dililitkan kawat berduri di bagian atasnya. Enam topeng aneka rupa digantung di sana. Sebuah tulisan “Museum Di Tengah Kebun” jadi satu-satunya penanda bangunan tersebut adalah sebuah museum.
Bukannya ditempel di plang yang menghadap ke jalan, tulisan itu ditempel di sebelah kanan dan kiri tembok dinding. Kalau tak jeli memperhatikan, sulit menemukan 'Museum di Tengah Kebun', di kawasan yang dipenuhi rumah mewah, minimarket, cafe dan sekolah itu.
Museum ini bukan dikelola oleh pemerintah, melainkan punya pribadi milik Sjahrial Djalil, 74 tahun. Benda-benda bersejarah disimpan dalam sebuah bangunan utama seluas 700 meter persegi di atas lahan seluas 3500 meter persegi. Ada sekitar 2.841 jumlah koleksi yang dipajang di 17 ruangan di bangunan utama.
Sjahrial mengatakan belum semua benda bersejarah yang dia koleksi dipajang di museum. Masih ada lebih dari 2000 koleksi lain yang belum dipajang karena tidak muat. Pria yang pernah menjadi aktivis periklanan itu mengaku cuek dalam hal perawatan koleksinya.
Namun tidak dengan soal keamanan. Tak bisa dipungkiri, koleksi barang berharga itu meski kadang kerap dipandang sebelah mata, sering jadi incaran maling. Kasus hilangnya empat artefak emas dari Museum Nasional Jakarta, September tahun lalu menjadi pelajaran bagi Sjahrial.
“Dampaknya kami jadi memperketat keamanan,” kata Mirza Djalil, keponakan Sjahrial yang dipercaya mengelola Museum di Tengah Kebun. Tiap aktivitas di ruangan dan sekeliling kebun selalu dimonitor.
Koleksi yang mahal juga ditaruh di pintu yang dilengkapi dengan terali besi. “Untuk keamanan kami mengikuti standar internasional, sudah pasti setiap ruangan dan sekeliling ada CCTV. Kami juga ada alarm dan kawat silet. Pokoknya untuk security sistem kami contoh dari museum Negara lain,” ungkapnya.
Sejauh ini, Sjahrial mengaku ia belum pernah kecurian barang-barang koleksinya. Kasus raibnya empat koleksi Museum Nasional juga membulatkan tekad Sjahrial untuk tidak menyerahkan pengelolaan museumnya kepada pemerintah.
Pasalnya, banyak benda bersejarah yang bernilai tinggi justru raib dari museum pemerintah. “Kalau saya meninggal, ini semua diwariskan untuk semua pemuda Indonesia,” kata Sjahrial.
Dalam catatan detikcom, sejumlah museum di Indonesia pernah kecolongan. Pada 11 Agustus 2010 lalu misalnya sebanyak 75 koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta raib digondol maling. Tahun 2007 kasus pencurian juga terjadi di Museum Radya Pustaka Surakarta.
(erd/erd)











































