Belum adanya titik terang pada kasus hilangnya empat koleksi Museum Nasional berupa artefak emas pada Rabu (11/09/2013) lalu menyisakan banyak tanda tanya. Sudah lima bulan berlalu namun polisi belum juga bisa mengungkap kasus ini.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai pihak kepolisian tidak serius menangani kasus pencurian ini. Hal ini terlihat dari belum adanya kemajuan penyelidikan dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.
"Kan sangat aneh kalau kasus pencurian di museum itu sampai sekarang belum ada tersangka, belum ada perkembangannya,” kata Neta kepada detikcom, Kamis (20/02/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun begitu, dia menekankan, seharusnya polisi bisa menelusuri dari sidik jari. “Kalau CCTV mati pasti ada yang matikan, siapa yang matikan itu kan bisa diperiksa dari sidik jarinya ketika dia mematikan itu. Itu salah satu petunjuk untuk membuka tabir ini,” ujar Neta menjelaskan.
Dia menegaskan, untuk itu tidak ada alasan bagi kepolisian untuk lamban dan tidak dapat mengungkapnya. "Karena ketidakseriusan saja dari Polda Metro Jaya."
Neta mengkhawatirkan jika cara kerja polisi seperti ini tetap dibiarkan, maka akan semakin banyak aset–aset sejarah Indonesia yang hilang satu per satu dari berbagai museum.
Jadi, IPW sangat berharap agar Polda Metro Jaya tidak menganggap enteng kasus ini. Sebab, hal ini menyangkut asal-usul sejarah bangsa dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. "Polisi harus serius, karena ini akan menjadi sorotan masyarakat internasional,” kata Neta mengingatkan.
Adapun Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kacung Marijan, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah pembenahan internal seperti penambahan pemasangan CCTV dan personel pengamanan terkait hilangnya benda-benda sejarah tersebut.
"Kamera CCTV-CCTV dipasang dalam jumlah yang banyak," ujar Kacung saat dihubungi detikcom, Kamis (20/02/2014). "Tak hanya soal personel sekuritinya tapi juga soal CCTV itu semuanya sudah oke,” kata Kacung menambahkan.
(idh/brn)










































